True Colors

Di negara ini, waktu menjadi perihal yang tidak dimaknai. Restoran cepat saji bercabang-cabang seperti cendawan di musim hujan. Kelas akselerasi dipercaya sebagai jawaban teknologi. Kantong celup mengganti air rebus yang menguapkan aroma daun teh ke lubang ventilasi. Novel ebook menjadi komoditas menarik, tanpa peduli syahdunya bunyi kresek halaman yang dibalik.

Kami sedang tidak diburu waktu ketika itu. Sehingga, obrolan dari hati melambatkan detak kamar saya di lantai tiga.

“Saat itu, dia terlihat lebih cantik dari biasanya, Re.”

Bagi pria, ada dua tipe wanita cantik. Pertama, yang mendorong kami berfantasi dalam gelap. Kedua, yang membuat kami ingin menjadi imamnya di kala Subuh dan Magrib. Memimpinnya di pergantian intensitas cahaya.

Matanya menerawang, meski tersembunyi oleh bingkai hitam. Senyum tipisnya timbul tenggelam. Tangan kanannya berhenti menyendok mie goreng, tidak peduli dingin Bandung akan meniadakan hangatnya. Semua unsur fisiknya tidak aktif. Tidak bisa tidak, saya percaya dia sedang membicarakan tipe yang kedua.

Sepotong langit hitam mampir di jendela. Sayang saya tidak duduk di posisi yang tepat, bulan tidak terlihat. Dari duduknya, mungkin hanya bintang yang menggantung sekilas. Tidak ada desakan melankoli yang menghampiri. Tapi, sekali lagi dia bergumam. Untuk diri sendiri dan pekat malam.

“Aku senang saat dia membahas keponakannya. Saat dia membicarakan anak kecil.”

Kenapa senang?

Nyaris terucap. Kalimat itu sudah berada di ujung bibir. Saya mengutuki diri sendiri. Pria kita sedang jatuh cinta. Bagaimana mungkin saya melempar tanda tanya bodoh itu kepadanya.

Dia meneruskan makan. Sesekali membetulkan letak kacamata, mulut yang naik turun menurunkan bingkainya. Obrolan yang tidak lagi ada menerbitkan lantunan musik dari laptop. MYMP sedang menguasai ruangan. Saya berlutut di depan meja, memastikan playlist masih cukup panjang untuk kami melanjutkan obrolan.

But I see your true colors shining through…

Lirik lagu True Colors itu melontarkan saya pada mereka. Dua orang yang jarang berbincang semasa kuliah, bahkan saya tidak ingat kapan terakhir kali mereka bertukar kata. Namun saling menemukan hati setelahnya.

Apakah cinta menjadi sempurna ketika ia dipendam lama?

Tanyakan itu pada Florentino Ariza, karakter fiktif yang tidak lekang dimakan zaman untuk digunakan sebagai simbol kesetiaan. Cintanya yang pertama tidak direstui ayah Fermina Daza, wanita yang padanya ia berkomunikasi melalui surat dan telegram. Dia bertahan, dan kembali mencintai untuk kedua kali setelah si wanita sudah menjadi janda. Dalam Love in the Time of Cholera, Gabriel Garcia Marquez menuliskan cinta sebagai materi yang abadi. Ketika cinta pertama dan kedua milik Florentino Ariza kepada Fermina Daza berjarak lebih dari 50 tahun.

Kawan saya tentu belum selama itu dalam memendam. Namun dia juga membuktikan, rasa tidak bisa digerus waktu.

Saya tersenyum sendiri. Suara empuk MYMP masih membatu di kamar yang bisu. Saya melirik arloji di tangan kiri. Jarum pendek sedang didekati yang panjang, sudah hampir tengah malam. Betapa lekasnya waktu terlewat dengan obrolan kawan lawas. Waktu. 50 tahun. Kesetiaan.

Saya jadi iseng bertanya,

“Tapi, kau serius dengannya kan?”

Nada kembali mengisi kekosongan. Ritmenya mengetuk jendela, keluar kamar untuk menyatu dengan angin malam. Membeku bersama bintang gemintang, mengendap pada Tangkuban Perahu di kejauhan.

I see your true colors, and that’s why I love you..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 227 other followers