Jalan-jalan ke Anak Krakatau!

Saya tidak sendiri untuk perjalanan kali ini, melainkan bersama teman-teman dari Blusuk Indonesia. Segala itinerary, tiket kapal, makan, homestay, dan tetek bengek selama perjalanan (kecuali alat snorkeling) sudah termasuk dalam paket harga 432 ribu rupiah. Trip berlangsung selama 3 hari 2 malam, dengan titik awal pertemuan di Pelabuhan Merak pada Jumat malam.

Hari 1, 5 Desember 2014

Pelabuhan Merak

Saya berangkat dari Bandung menggunakan bis jurusan Leuwipanjang-Merak, dengan ketengan alias tidak perlu memesan kursi sebelumnya. Harga tiket 95 ribu, perjalanan menghabiskan sekitar 6 jam dan saya sampai di Pelabuhan Merak sekitar jam 10 malam.

Di sana, saya bertemu dengan teman-teman serombongan. Setelah perkenalan dan briefing singkat, rombongan kami, total 35an orang, naik ke atas kapal sekitar jam 1 malam. Kami tidur, untuk menghemat tenaga, selama perjalanan ke Bakauheni.

Hari 2, 6 Desember 2014

Pelabuhan Bakauheni

Kapal merapat di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, sekitar jam setengah 6 pagi. Setelah sholat subuh dan menyewa angkot, setengah jam kemudian kami menuju Dermaga Canti yang menjadi titik awal penyeberangan ke rangkaian Pulau Anak Krakatau.

Dermaga Canti

Perjalanan dari Bakauheni memakan waktu 1 jam, kami sampai di Dermaga Canti pada jam 7 pagi. Di sini, kami diberikan waktu untuk sarapan dan bersih-bersih. Hujan gerimis ketika itu, jadi diputuskanlah untuk menukar agenda. Mendaki Anak Krakatau yang seharusnya masih esok hari, akhirnya dimajukan di siang itu karena snorkeling tidak akan maksimal ketika hujan.

IMG-20141217-WA0003Sekitar jam 8 pagi kami meninggalkan Dermaga Canti menggunakan perahu. Tujuan berikutnya adalah Pulau Sebesi yang menjadi tempat homestay. Oh iya, di Dermaga Canti kami juga menyewa alat snorkeling. Harganya 75 ribu untuk sepaket mask, snorkel, dan fin.

Pulau Sebesi

Perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar 1 jam 45 menit. Di Pulau Sebesi, kami menempati homestay yang merupakan rumah penduduk. Total kami menggunakan empat rumah karena tiap rumah maksimal hanya boleh menampung 10 orang. Di homestay, kami menurunkan tas, ganti baju, dan bersiap-siap untuk mendaki lalu snorkeling di sore harinya. Jam setengah 11 pagi, kami naik ke atas kapal.

Pulau Anak Krakatau

Pulau Anak Krakatau adalah satu dari empat rangkaian Kepulauan Krakatau. Tiga pulau lainnya adalah Pulau Sertung, Pulau Krakatau Besar (Rakata), dan Pulau Krakatau Kecil (Panjang). Pulau Anak Krakatau adalah yang menjadi tujuan para wisatawan, baik untuk pendakian atau penelitian. Seperti kami.

_MG_5212Gunung yang masih aktif mengharuskan kami untuk berhenti mendaki sampai di titik aman, tidak ke puncak. Kami sampai di Pulau Anak Krakatau sekitar jam 12 siang, disini kami makan siang dan berfoto di pinggir pantai barang sebentar. Satu jam kemudian kami mulai mendaki.

_MG_5061_MG_5117Durasi pendakian Anak Krakatau hanyalah barang 30-40 menit. Yang membuat lama adalah karena kami berfoto-foto selama pendakian itu hehehe. Latar belakang laut dan rangkaian pulau lain sungguh sayang jika dilewatkan. Sesampai di ‘puncak’, kami berfoto bersama-sama dengan membawa spanduk Blusuk Indonesia.

_MG_5171_MG_5130Sekitar jam setengah 3, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Labuhan Cabe untuk snorkeling.

Pulau Labuhan Cabe

Ada yang memanggilnya Labuhan Cabe, yang lain menyebutnya Lagoon Cabe.

Apapun itu, jarak pulau ini hanya sekitar 10 menit dari Pulau Anak Krakatau. Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung meloncat dari atas perahu untuk menikmati keindahan terumbu karang yang dijanjikan. Sayang pemandangan tidak bisa kami abadikan karena tak ada yang membawa kamera underwater.

Oh iya, saat snorkeling, hidung dan mulut saya berkali-kali kemasukan air laut. Dan ada kawan lain yang mengalami nasib serupa. Usut punya usut, ternyata alat yang kami sewa berkualitas kurang baik. Bahkan saat snorkeling keesokan harinya, saya memakai kacamata renang yang memang saya bawa untuk backup plan. Nah, ini jadi pelajaran kalian untuk lebih cermat memilih alat snorkeling ketika menyewa di Dermaga Canti.

Setelah puas bermain air selama 45 menit, kami satu per satu antri naik tangga di samping perahu. Jam 4 sore lebih sedikit, moncong perahu mengarah ke Pulau Sebesi. Ombak tenang, angin sepoi-sepoi, matahari yang sedang cantik-cantiknya, semua menemani perjalanan kami pulang ke homestay.

Homestay + makan

Kami tiba di homestay tepat ketika matahari tenggelam. Dua jam setelahnya kami gunakan untuk mandi, sholat, minum teh hangat, ngecharge ponsel + kamera, dan leyeh-leyeh di bawah kipas angin. Kami beruntung karena saat itu listrik di Pulau Sebesi sudah menyala. Pada hari biasa, normalnya listrik akan menyala pada jam 18.00-24.00. Namun di malam Minggu, seperti saat itu, listrik menyala dari jam 18.00 sampai jam 6 pagi keesokan harinya.

Agenda berikutnya adalah makan malam prasmanan di pendopo pinggir pantai pada jam 8 malam. Setelahnya, saya tidak kembali ke homestay namun bertahan di pesisir pantai agar mendapatkan sinyal internet hehehe. Setelah puas meng-update path dan mengecek kondisi dunia di luar sana, saya kembali ke homestay sekitar jam 10 malam.

Seharusnya, kami akan bangun jam 3 pagi keesokan harinya untuk mendaki Anak Krakatau dan mengejar sunrise disana. Namun karena agenda sudah ditukar, jadi kami bisa bangun lebih siang hehehehe.

Hari 3, 7 Desember 2014

Pagi dibuka dengan menikmati ketenangan tanpa listrik ala Pulau Sebesi. Saya memilih menghabiskan pagi dengan berjalan mengitari desa dan menikmati sunrise di anjungan pulau. Pada jam 7 pagi kami sudah berkumpul di pendopo untuk makan pagi prasmanan. Setelah itu, kami diberikan waktu bersiap-siap untuk kemudian berlayar sekitar jam setengah 9.

IMG-20141218-WA000320141207_061416Tujuan kami di hari itu adalah Pulau Cemara 1 dan Pulau Umang-umang.

Pulau Cemara 1

Pulau Cemara 1, yang hanya berjarak setengah jam dari Pulau Sebesi, menjadi lokasi snorkeling kedua kami. Sama seperti di hari sebelumnya, kami tinggal melompat dari atas kapal untuk menikmati keindahan terumbu karang.

Namun, sayang sekali, dikarenakan ombak yang besar, kapal beberapa kali harus memutar badan mencari posisi yang aman bagi kami untuk berenang. Sialnya, jangkar yang dilempar berkali-kali membuat air sedikit keruh. Petualangan kami tidak maksimal di lokasi ini. Tidak sampai setengah jam, kami sudah mengarahkan moncong ke Pulau Umang-umang.

Pulau Umang-umang

Pulau ini menjadi primadona. Banyak aktivitas yang kami lakukan disini, seperti menanam terumbu karang, minum air kelapa, berfoto dengan background laut lepas, serta bermain pasir putih yang memanjang seantero pulau. Rentetan kalimat saya tidak akan cukup menggambarkan foto-foto di bawah ini.

_MG_5536_MG_5557_MG_556710154256_10204562010964573_6442308400887441528_nHomestay

Kami sampai di homestay kembali sekitar jam 11 siang. Waktu yang tersisa kami gunakan untuk mandi, sholat, dan packing. Setelah makan siang prasmanan, sekitar hampir jam 2 siang kami meninggalkan Pulau Sebesi untuk pulang.

3193af28eb5bad3953d621fdd618d5cdDermaga Canti + Pelabuhan Bakauheni

Kami sampai di Dermaga Canti jam 3 lebih sedikit. Selama perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni, kami mampir sebentar di pinggir jalan untuk membeli oleh-oleh khas Lampung. Saat itu saya membeli keripik pisang cokelat. Kami sampai di Pelabuhan Bakauheni pada jam 5 sore.

Pelabuhan Merak

Perjalanan ke Pelabuhan Merak jauh lebih lama dibandingkan saat pergi tempo hari. Total kami melintasi Selat Sunda selama 5,5 jam! Kemungkinan karena harus mengantri saat masuk ke Pelabuhan Merak. Kami sampai disana sekitar pukul setengah 1 malam. Setelah itu kami berpisah kembali ke kota masing-masing.

Well… sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya!!

fb 2

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 238 other followers