Ikhlas

Bola matanya berpindah secara runtut, kaca spion kiri, mobil di hadapan, motor yang menyempil dari kiri-kanan, serta penumpang di sebelah yang memberi aba-aba. Setelah sekian peluh keringat dingin dan gumaman umpatan, akhirnya mobil berhasil belok kiri untuk masuk ke jalan tol. Macet, tergesa-gesa ke bandara, dan panas kota bukanlah kombinasi yang baik untuk pengendara pemula. Terlebih karena macet akibat kampanye partai, seakan semua motor dan mobil berjalan dengan ketergesaan yang mengintimidasi.

Di jalan tol yang lebih sepi, tangan kirinya memindahkan persneling ke gigi tinggi. Wajahnya sedikit lebih tenang, meski satu dua tetes keringat dingin meluncur dari balik telinga. Entah itu karena macet barusan atau sesuatu yang ingin dia katakan. Lidahnya membasahi bibir berulang kali, penanda mulut itu benar-benar menahan diri. Namun akhirnya kalimat amarah itu keluar juga.

Aku kecewa dengan Tuhan.

Gak boleh. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu.

Dia terkesiap. Respon itu dilontarkan bahkan sebelum satu tarikan napasnya selesai dilakukan. Dia tidak menangkap semua kata-kata selanjutnya dari penumpang sebelah. Selain masih terkejut, itu karena di depan ada truk yang berjalan pelan, sedangkan dari kaca spion kanan terlihat mobil-mobil kencang yang sedang tidak ingin diinterupsi lajurnya. Dia menegakkan duduk. Setelah dirasa tepat, dia menyalakan riting kanan, mempercepat mobil, melahap truk, dan kembali berada di depannya.

Suasana mobil kembali sunyi. Hanya ada suara kedip riting yang bersaing dengan dengung pendingin mobil. Radio sejak tadi memang sengaja tidak dihidupkan. Semua bentuk suara akan mencabangkan konsentrasinya pada jalanan. Namun, rasanya, keheningan setelah bentakan terasa sangat menusuk. Untuk itulah dia kembali bersuara, sekaligus mengembalikan topik.

Oh, jadi aku gak boleh berpikiran seperti itu ya.

Kamu jangan bolak-balik ganti lajur. Mending ambil kanan, tapi sesuaikan kecepatan. Mobil belakang yang terlampau kencang biarkan menyalip dari kiri.

Pancingannya tidak ditangkap. Wanita di sebelah malah kembali memberi komando tentang mobil. Dia melakukan yang diminta, sambil mengetuk-ngetuk stir mobil dengan dua jari telunjuk. Mata melirik arloji di tangan kiri, selanjutnya tangan itu bergerak menyapu separuh wajah untuk merasakan sisa kekasaran di janggut yang baru dicukur. Dia berusaha rileks untuk melajutkan obrolan, karena tinggal beberapa menit lagi pintu tol akan terlihat. Berarti tinggal beberapa menit juga obrolan-empat-mata-di-keheningan ini akan tersedia.

Semua orang akan mengalami masa seperti ini. Kamu tidak boleh rajin ibadah, lalu merasa berhak untuk kecewa.

Demi mendengar lanjutan kalimat itu, dia kembali menegakkan duduk. Dia tahu jawaban selanjutnya mungkin akan lebih menampar, namun bentakan sekeras apapun akan lebih baik dibandingkan saat ini, bertanya-tanya dalam kegelapan. Dia melihat spion, memastikan tidak ada klakson mobil yang akan mengambil alih perhatian.

Bapak Ibu sudah sejak kecil mengencangkan ibadah. Apa keinginan kami langsung dikabulkan? Tidak. Ibu bahkan tidak tahu doa Ibu akan dijawab seperti apa. Tambah lagi, tahajjud dan puasa sunah itu, baru kamu lakukan akhir-akhir ini kan?

Tepat sasaran. Pria kita diam, tidak berkomentar. Dia sudah belajar banyak dalam hidup, salah satunya ini: tidak semua tanya butuh jawab. Kadang, yang tidak terucapkan malah lebih banyak menjelaskan. Lagipula, dia tidak akan mampu menjawab pertanyaan itu. Dia membenarkan kacamata, melihat penunjuk jalan, memastikan arah yang benar. Napas panjang ditarik, meski dia tahu tarikan sedalam apapun tidak akan mampu menahan sesak untuk sindiran pamungkas ini.

Itu berarti doamu belum ikhlas. Kalau masih kecewa, berarti kamu masih belum ikhlas.

Pintu tol sudah terlihat. Dia menekan pedal paling kiri, menurunkan ke gigi nol. Selanjutnya mobil tinggal diatur dengan rem yang dimainkan. Dia merobohkan punggung ke sandaran, entah lega entah menyerah dengan penutup itu. Suara pendingin ruangan kembali mendominasi.

Hening, terlebih ditambah dengan kecepatan yang semakin ke titik nol, benar-benar menyiksa. Dua orang di depan tidak terlihat akan melanjutkan obrolan. Saya harus mengambil inisiatif untuk mengiris kesunyian yang risih ini. Tepat saat mobil berhenti di loket tol, saya bicara hati-hati.

Obrolan kalian tadi tidak bisa kutemui setiap hari. Bolehkah kutuliskan beberapa?

Satu detik. Dua detik. Si wanita mengulurkan uang dari laci mobil. Pria kita menukarkannya dengan tiket tipis. Lima detik. Enam detik. Tetap tidak ada jawaban sampai mobil kembali melaju. Baiklah. Bukankah yang tak terucap malah lebih menjawab?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.