Cerminan Diri

Tuhan pasti lebih sibuk menerima doa di kala malam. Ketika pikiran melayang tenang dan labirin kejujuran sedang menemui anak kuncinya. Seperti obrolan kami berempat suatu waktu.

“Menurutku, kalau cowok memang sudah siap, dia bakal bisa ngeyakinin si cewek”, dia meminum sekelumit, lalu meneruskan, “sesulit apapun kondisinya.”

Cangkir putih kecil itu diputarnya sedikit. Mencocokkan pada tipisnya lekukan cawan, seperti seorang perindu yang menyusun bait diksi terbaik di kala hujan. Punggungnya bersandar pada tiang lampu, menggetarkan cahayanya yang bisu. Saya membayangkan sepahit apa espresso untuk melarutkan kalimatnya tadi. Dia sedang menjawab kepada seorang kawan wanita kami, yang sedang memainkan jemari, yang mengisahkan kenangan sedari tadi.

Jari itu lalu digunakannya untuk menjepit sedotan, menyedot beberapa, lalu kembali bertanya.

“Apa sih yang cowok cari dari cewek?”

Saya selalu percaya hidup adalah soal mendengar dan didengar. Menjadi dewasa, berarti mengerti kapan tidak melakukan salah satu diantaranya. Malam itu, saya memilih untuk lebih banyak mendengar.

“Biasanya,” pria espresso di sebelah saya mulai menjawab, “yang nyambung diajak ngobrol, setelahnya adalah agama dan pintar, itu juga ada kan di perintah Rasul. Sisanya, cantik dan sebagainya, jadi bonus aja.”

Saya menyesap green tea latte hangat. Berkonsentrasi tidak merusak lukisan daun di atas hijaunya, sambil menikmati dia yang menceritakan perjalanan cintanya. Melalui celah gelas, saya melirik seorang lain yang juga banyak diam. Wajahnya seperti rahasia yang enggan dibuka. Cangkir americano di hadapannya jauh lebih besar, pertanda lebih banyak kegetiran yang mengendap disana.

Si pria espresso berbicara tentang seorang wanita yang telah mencuri hatinya. Tentang ketidaksengajaan, pertemuan, kekaguman, dan kepastian yang diberikan.

Saya jadi terbayang salah satu cerpen Sungging Raga. Penulis yang gemar menulis senja, bangku taman, dan wanita kesepian itu suatu kali pernah bercerita tentang sepasang kekasih yang menunggu kereta lewat dari atas jembatan Sungai Serayu. Dengan kaki yang menjuntai di ketinggian, mereka menikmati Serayu yang perlahan melahap senja, kereta yang membunyikan klakson begitu mendekati jembatan, dan perahu yang melintasi permukaannya demi mencari kehidupan.

Cerpen Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus menyajikan si wanita yang tersakiti bila kembali melihat senja disana dan masinis yang terkenang akan kekasihnya ketika melihat jingga yang saling tindih di atas sungai.

Apakah cinta memang bisa serumit itu?

Tanya yang melemparkan saya pada sebuah masa. Tentang pesan di akhir pekan yang deras berbalas, kalimat penyemangat pengisi hari yang berat, emoticon pengganti kata yang tak berwarna, dan mimpi yang menyertai. Kita, saya dan dia, terus mencoba tanpa peduli bahwa hanya ada buntu di depan sana. Tembok besar pemisah jalan dan jurang itu, yang berisikan jawaban panjang doa dan nasihat orangtua, bernama agama.

Baiklah, apakah cinta memang bisa serumit itu?

Mungkin tidak bagi pria espresso kita. Ketika dia berbicara pelan membelah pertanyaan,

“Tidak perlu pusing mencari. Menurutku, memperbaiki diri sendiri adalah yang terbaik saat ini.”

Melodi rintik berangsur menghilang. Juga dengan suara klakson dan mesin di jalanan yang telah menyerah pada malam. Saya melirik arloji, tanggal di bundarnya sudah bergerak menuju esok hari. Pengunjung mulai meninggalkan gelas dan asbak dalam keheningan, menyisakan kami dan empat orang bartender yang larut dalam tawa nikotin di meja lain.

Saya menenggak habis isi gelas, terlanjur berpikir malam itu telah usai, sebelum kawan wanita kami menyambung kalimat terakhir,

“Karena jodoh adalah cerminan diri kita.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 239 other followers