Rahasia

I watched Hassan get raped.

Di sebuah malam yang mengiris, Amir mengucapkan kalimat itu di depan orang-orang. Tidak ada tanggapan, hanya terdengar lenguhan dan dengkuran, semua sudah terlelap. Di ruang keluarga yang diterangi sepotong bulan, Amir mengatakan rahasia yang sudah dipendamnya selama berbulan-bulan pada ketiadaan. Ketika dia melihat Hassan dikepung di ujung gang gelap, ketika dia memilih untuk lari, bersembunyi, lalu kembali lagi seakan baru menemukan, dan membuang pandangan untuk tidak melihat darah Hassan yang menghitam diserap salju.

Berapa lama seseorang sanggup memendam rahasia dirinya?

Cukup lama bagi Amir, ketika dia mampu melakukannya untuk lebih dari seperempat abad. Ironis untuk mengatakan, namun kadang manusia butuh hal buruk untuk bertahan hidup. Mahasiswa perlu deadline untuk mengeluarkan yang terbaik, penulis butuh patah hati untuk menulis kisah yang menyayat, komedian harus menggali kesedihan yang terdalam untuk menciptakan humor terbaik yang sebenarnya untuk menghibur diri sendiri.

Dari sana tercipta kopi, rokok, buku, dan keringat, karena manusia tetap butuh media untuk mengumpat. Kopi dan rokok dengan beragam rasa pahit, berbagai judul puisi puluhan bait, lari bisa dilakukan di dalam ruangan dengan banyak pilihan pemandangan. Manusia diberi banyak opsi jawaban untuk disesuaikan dengan kadar makian.

***

Beberapa orang takut merasa terlalu gembira karena mereka percaya kesedihan akan datang setelahnya. Itulah mengapa ingatan kegagalan mengendap menahun, hanya sedikit yang sanggup berlama-lama di dekat penjual balon sabun, pemerintah melarang warganya menyalakan kembang api, dan cizz cake tidak boleh dinikmati setiap hari.

Rahasia kelam tetap dipendam agar stres bisa menjaganya tidak bahagia. Beberapa senang menikmati depresi yang disimpannya sendiri.

Mari sejenak lupakan fiksi Kite Runner dan kekuatan Amir di dalamnya. Tapi, berapa lama seseorang benar-benar sanggup memendam rahasia?

“Aku juga akan kaget jika di posisimu, Re. Tapi setelah ini kau pasti akan melihat seseorang secara berbeda. Segala sesuatu punya sisi positifnya, bukan?”

Dia menghembuskan gelombang asap ke langit berbintang, dalam pekatnya terasa ada jawaban pertanyaannya sendiri yang dia titipkan, menyesakkan aroma malam. Juga membaurkan lampu flyover di kejauhan, yang kemilaunya bersanding dengan bulan bekas purnama tempo hari yang belum utuh menghilang.

There is no act more wretched than stealing, Amir. When you cheat, you steal the right to fairness. When you tell a lie, you steal someone’s right to the truth…

Di kepala melankolis saya tiba-tiba muncul barisan kalimat yang Amir kecil dapatkan dari Baba, ayahnya. Saya menghembuskan napas panjang, mengusap wajah dengan kedua tangan. Cukup lama, sampai terdengar bunyi berisik dari luar, seseorang membuka pagar, memasukkan motor ke garasi, lalu menguncinya kembali. Tidak ada yang menyambung obrolan setelahnya. Saya seperti mendengar kembali ketika seseorang mengatakan apa yang dipendamnya. Sesuatu yang membuat saya menenggak habis botol minuman dan terus melihat jam tangan. Serba salah. Gelisah. Dibandingkan keramaian, hening jauh lebih memekakkan telinga memang.

Saya membuka sedikit celah untuk lidah.

“Setiap orang punya masa lalu, kurasa.”

Dari sela jemari, saya hanya memandangi sisa puntung rokok yang berhamburan di tanah, menginjak satu yang ternyata masih menyala dibuai angin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 219 other followers