Mengapa Saya Ingin Membaca The Monogram Murders

‘I’m a dead woman, or I shall be soon…’

Di tengah makan malam, seorang wanita datang untuk mengucapkan kalimat itu ke Hercule Poirot. Seseorang akan membunuhnya.

Cuplikan preview The Monogram Murders di atas mengingatkan saya pada kalimat nyaris serupa di Murder on the Orient Express. Ketika seorang pria berpistol meminta Poirot untuk melindunginya dari ancaman seseorang. Dengan alasan dan ketergesaan yang tidak masuk akal, Poirot menolak. Lalu terjadilah pembunuhan seperti yang diperkirakan. Serta sebuah penyelidikan, hipotesis, dan penyelesaian kasus terbaik yang pernah dihadirkan Agatha Christie, menurut saya. Dimana Poirot tidak memandang manusia sebagai objek hitam putih, melainkan abu-abu yang bisa dimaklumi.

The Monogram Murders mengambil latar di Inggris pada tahun 1929, meskipun motif pembunuhan dikisahkan sudah terjalin sejak 16 tahun sebelumnya. Pola ini mirip dengan kisah memorable lain, Five Little Pigs. Disana, Poirot harus mewawancarai lima orang yang sudah dimakan usia untuk memecahkan kasus 16 tahun silam. Five Little Pigs lebih dari sekedar pertunjukan kecerdasan si detektif, dan Agatha Christie tentunya. Novel ini juga menunjukkan kecermatan Poirot dalam menyelami keadaan emosional setiap individu, dan bagaimana perasaan itu masih tampak bahkan setelah belasan tahun.

Saya selalu merasa lengkap setelah membaca karya Agatha Christie. Tidak seperti Sherlock Holmes yang serasa bermain sendiri, Hercule Poirot selalu menyediakan spasi bagi kita untuk ikut berpikir, lalu menebak. Karakter setiap orang digali dan dihidangkan perlahan, lengkap dengan kemungkinan motif yang melingkupi perilaku. Lebih jauh lagi, Agatha Christie banyak memasukkan unsur psikologi dalam karyanya. Ketika tarikan napas, kedipan mata, dan senyum tipis mengartikan ‘sesuatu’, yang selanjutnya dipadukan dengan rentetan ‘sesuatu’ dari hal-hal lain untuk diintepretasi. Manusia memang terlalu kompleks untuk dieksplorasi.

Membaca Detektif Poirot berarti juga belajar humanisme.

Bicara soal ini, berarti saya harus menyinggung ending cerita The Murder of Roger Ackroyd. Kebanyakan detektif akan mengumpulkan semua tersangka dan menyerang si pelaku dengan rentetan pertanyaan memojokkan. Tapi tidak dengan Poirot (ok, spoiler alert). Di depan perapian dan kepulan asap rokok Rusia, dia berbicara empat mata dengan si pelaku untuk memberinya pilihan pengakhir polemik, yaitu menenggak banyak obat tidur. Poirot memilih untuk tidak menjabarkan jawaban di hadapan khalayak, kerendahan hati yang bukan miliknya, untuk melindungi nama baik kakak wanita si pelaku. Bisa jadi karena akhir yang tidak biasa itulah novel ini masuk dalam daftar 1001 Must Read Books Before You Die.

**

Novel Agatha Christie bukan hanya soal intelektual, namun juga kekalutan manusia. Tidak mudah menulis untuk menyentuh sisi melankolis itu, bahkan oleh karya sastra sekalipun. Lebih sulit lagi untuk mewarnainya dengan alur kaku khas kisah detektif.

Karena itulah saya ingin membaca The Monogram Murders. Apakah Sophie Hannah juga akan memberikan hal itu? Mampukah dia meneruskan keruwetan psikologi serupa yang telah dibangun Agatha Christie? Sanggupkah dia menggambarkan karakter fiktif sebagai manusia yang utuh?

Lalu saya membaca sinopsis The Monogram Murders tentang Poirot dengan Obsessive Compulsive Disorder-nya yang terus menata peralatan makan, dan seorang wanita yang memohon untuk tidak menghukum pembunuhnya kelak. Seharusnya saya punya harapan.

Beberapa koleksi Poirot

Beberapa koleksi Poirot

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 229 other followers