Review The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

“Kalau keadaannya sedikit berbeda, benturan itu pasti sangat menyakitkan.”

“Ternyata ada untungnya juga jadi orang mati.”

Absurd. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan mayoritas obrolan di novel ini, seperti milik Allan dan Julius di atas. Mereka, yang berteman dengan cepat karena usia yang dekat, sedang mengayuh troli berpenumpang mayat seorang penjahat yang mengejar Allan. 100 yoman

Kisah The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared dibuka dengan Allan Karlsson yang membuka jendela kamar di rumah lansia. Allan yang tidak pernah berlama-lama mempertimbangkan sesuatu akhirnya memutuskan kabur, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-100.

Takdir membawanya bertemu petugas loket pendiam yang membosankan, padanya Allan menanyakan kedatangan bus, kapanpun dan kemanapun, asalkan bisa secepatnya pergi sebelum dikejar pegawai panti. Ternyata kisah pelarian bukan bergulir dari sana, melainkan dari pria berjaket yang ditemuinya di terminal. Allan, yang tidak pernah berlama-lama mempertimbangkan sesuatu, mencuri koper pria itu. Itulah awal dari petualangan membelah Swedia di hari-hari senja Allan Karlsson berikutnya.

Koper berisi 50 juta krona itu membuatnya berteman dengan berbagai macam orang. Mulai dari Julius mantan pencuri yang hidup terasing, Gunilla wanita bermulut kasar yang memiliki hubungan sosial serumit masa lalu gajah di lumbung rumahnya, Per-Gunnar Gerdin bos perampok yang bangkit dari kematian, Benny pedagang hot dog yang puluhan tahun mengambil kuliah beragam jurusan, serta saudaranya, Bosse, yang karena ketidaksengajaan pernah membaca seluruh Alkitab. Tempo pelarian dipercepat oleh kehadiran Inspektur Aronsson dan Jaksa Ranelid, yang tertekan oleh fakta bahwa mereka terlalu lambat untuk seorang renta seperti Allan yang bahkan tidak bisa kencing melebihi sandalnya.

Cerita menjadi menarik ketika secara paralel penulis juga mengisahkan masa lalu Allan yang ternyata banyak bersinggungan dengan sejarah dunia, bahkan bersama para pemimpin populer. Allan muda adalah seorang ahli dinamit yang anti politik, dua hal tidak berkaitan itulah yang membawanya mengelilingi separuh bumi di masa Perang Dunia.

Mulai dari minum tequila bersama Wakil Presiden Henry Truman setelah secara brilian mencetuskan ide penting dalam perhitungan bom atom, berdiskusi tentang polemik Iran dengan Winston Churchill di atas pesawat, dihukum Stalin di kamp kerja paksa Vladivostok bersama Herbert Einstein (tokoh fiktif saudara Albert Einstein yang bodoh), sampai menenangkan Kim Jong Il muda yang menangis di pangkuannya.

Dari pengalamannya, Allan memberikan kalimat sederhana yang banyak mengawali konflik dunia,

“Kau bodoh, bukan, kau yang bodoh, bukan, kau yang bodoh.”

Terlalu klise untuk seorang penggemar vodka seperti Allan.

Cerita yang baik harus mampu menyampaikan kegetiran. Meski ngos-ngosan, menurut saya novel ini masih berhasil melakukannya, terlebih ketika latar cerita sedang berada di Bali. Penulis, Jonas Jonasson, memang menyajikan humor segar seantero novel, lengkap dengan dialog absurd, namun saat menceritakan Indonesia semuanya menjadi satire bagi saya.

Mulai dari pelayan bernama Ni Wayan Laksmi yang selalu salah mengantarkan Coca-Cola dengan jus Pisang Ambon, atau Allan yang tidak berpaspor dan memperkenalkan diri sebagai Mr. Seratus Ribu Dollar dari radio pesawat, sampai pada Gubernur Bali yang mendapat suara yang cocok angkanya dengan total jumlah pemilih.

Belum lagi satu kalimat Allan untuk pilot pesawat yang bengong menatapnya,

“Indonesia adalah negara dimana segalanya mungkin.”

Silakan tertawa lebar sambil meringis.

100-yoman-banner

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 214 other followers