sesuai janji saya di post pertama, “Why WordPress?”, saya akan menampilkan artikel yang sudah pernah saya tulis di tumblr. kenapa artikel tersebut? karena ada 2 orang teman saya yang menge-like nya. masih dengan judul yang sama, “thanks dad…”, selamat membaca,,


kebanyakan anak laki-laki akan menjawab ingin menjadi seperti ayah mereka jika ditanya mau seperti apa 10 tahun lagi. dan saya akan menjawab hal yang sama, sampai kapanpun pertanyaan itu ditanyakan.

tidak banyak momen dengan ayah saya yang bisa saya tulis disini, karena hal yang kami omongkan adalah “hal yang memang harus diomongkan”, bahkan saat di telepon pun sering kami hanya membahas “hal-hal yang memang menjadi tujuan kami menelepon” satu sama lain, setelah itu ya sudah telepon diakhiri. tidak seperti dengan ibu saya yang kadang-kadang bisa ngobrol ngalor-ngidul. hal yang saya omongkan dengan ayah saya di telepon? bisa ditebak, tidak jauh dari soal pelajaran, tes beasiswa, IP, dan semacamnya.

banyak kesamaan yang saya rasakan antara saya dengan ayah saya. mulai dari jalan pikiran, kesukaan pada matematika, sama-sama pernah merasakan persaingan yang keras di ITB, senang bermain catur, dan mungkin butuh 2 halaman untuk menulis kesamaan kami.

saat mendapat kabar kalau berhasil masuk ITB, ibu saya tentu saja memeluk saya, mengatakan kalau beliau senang, menanyakan siapa saja yang berhasil lolos, menanyakan bagaimana perasaan saya, dan kami mengobrol berjam-jam dalam suasana bahagia, namun saat itu ayah sedang dinas dan baru bertemu beberapa hari kemudian. apa ekspresi beliau saat kami bertemu? ayah saya memeluk saya 4-5 detik, menepuk pundak kanan saya, dan mengatakan kalau beliau senang. cukup, itu saja.

saat melepas saya untuk kuliah di bandung, dalam perjalanan di mobil, ibu mengatakan kalau saya boleh pulang kapan saja jika kangen rumah. apa yang ayah saya katakan? jangan terlalu sering pulang, mending waktunya dipakai buat belajar, kejar IP yang tinggi. itulah ayah saya. beliau tidak banyak bicara, bahkan saat melepas saya untuk merantau. lelaki memang harus seperti itu, dia harus terlihat kuat saat perasaannya ingin menangis. tidak seperti ibu yang sempat membuat mobil ngerem mendadak karena tiba-tiba menangis saat kami mengobrol.

saat saya gagal masuk teknik perminyakan, ibu selalu berada di dekat saya selama 3 hari pertama, entah itu saat saya tiduran di kamar, nonton tv, beliau mengatakan ingin memastikan saya baik-baik saja karena saya tampak sangat terpukul, menurut beliau, dan memang kenyataannya seperti itu. apa yang ayah saya lakukan? beliau menanyai teman-teman kantornya, kenalan-kenalannya, bos-bos nya, tentang prospek geophysics di dunia kerja. hasilnya, saya kembali tersenyum karena menurut “laporan” beliau alumni geofisika tidak kalah dengan perminyakan. itulah ayah saya, beliau menghibur dengan caranya sendiri.

saya ingin menjadi seperti beliau, dan bisa mendidik anak-anak nya seperti beliau.

ayah saya adalah ayah nomor satu sedunia…