Aku melihat ibu sedang memasak banyak makanan, untuk para tamu besok kata beliau. Dibantu kakak, sesekali aku juga membantu menaruh kue di dalam toples. Setahuku tetangga-tetangga kami melakukan hal yang sama. TV tidak henti mendengarkan lagu rohani, aku juga mendengar sayup-sayup suara takbir dari luar sana. Suasana terasa beda, semua orang sedang bahagia. Esoknya baru aku mengerti, itulah yang namanya idul fitri, hal yang akan terjadi setelah sebulan berpuasa. Ya, itu adalah lebaran pertamaku, di kota itu.

###

Badannya tegap, usianya sekitar anak SMP. Berjalan ke arah rumah kami. Lalu dia berbicara dengan ayahku, aku meringsut di belakang ayah, sambil berusaha menguping. Kudengar dia menawarkan untuk mengambilkan kelapa muda yang pohonnya memang banyak tumbuh di sekitar kompleks rumahku. Lima ratus rupiah per buah katanya. ayahku mengatakan sejumlah angka, dan dia mengangguk paham. Aku melihatnya lebih seksama, rambutnya ikal, kulitnya hitam, giginya putih tidak seperti teman-temannya yang sering kulihat giginya merah karena senang memakan sirih. Dia tersenyum padaku, aku semakin meringsut di belakang ayah, itulah interaksi pertamaku dengan warga asli disana, di kota itu.

###

Sore itu langit cerah, saat yang sempurna untuk bermain. Setelah mengaji, kami berkumpul bersama mengelilingi bola. Pembagian tim dilakukan, aku ikut juga. Alas kaki dilepas untuk dijadikan tiang gawang, pembagian posisi dilakukan, bola plastik ditaruh di tengah, sepetak jalan aspal kompleks kami kuasai. Teriakan kami yang berusaha meminta bola, teriakan kami saat ada yang mencetak gol, suara tawa kami saat melihat teman kami terpeleset, membuat kompleks berisikan 10 rumah itu terasa ramai. Setelah kuingat-ingat, itulah pertama kalinya aku bermain bola, suatu kenangan yang tak terlupakan, di kota itu.

###

Dia cantik, sangat cantik. Aku merasa ingin selalu bermain, bercanda, dan mengobrol dengannya. Tapi aku masih SD saat itu, aku malu kalau teman-teman yang lain mengejek kami. Maklumlah, SD ku SD islam, bukan hal yang wajar cowok dan cewek bermain dan berjalan bersama. Namun tetap kusimpan saja perasaan itu, aku selalu mengamatinya setiap hari. Memastikan kalau dia baik-baik saja dari pagi hingga pulang sekolah. Perasaan yang masih kupendam hingga 6 tahun aku bersekolah SD disana. Sekarang aku tahu, itulah yang namanya cinta, dan itulah pertama kalinya aku merasakannya. Adalah suatu hal yang tak akan kulupakan, suatu pengalaman yang akan selalu kuingat, suatu kenangan indah, di kota itu.

###

Malam itu mati lampu, sebuah kejadian yang terjadi berkali-kali di sana. Kami sekeluarga keluar ke halaman rumah untuk sekedar menikmati sinar rembulan daripada terasa sumpek di dalam rumah. Jalanan kompleks sepi, orang-orang memilih tidur di rumah masing-masing. Aku keluar ke jalan, memandangi lampu-lampu kota yang kelap-kelip dari kejauhan. Kotaku berbentuk teluk, alias lautan menjorok ke daratan, sedangkan rumahku yang menghadap ke laut membuatku bisa melihat daratan yang di seberang sana. Kegelapan dan kesunyian disini membuat cahaya lampu-lampu di seberang sana terlihat indah, indah sekali. Langit cerah, ribuan bintang tersebar disana, membuat kota di ujung timur Indonesia ini begitu eksotis, tak tergambarkan dengan kata. Suatu keindahan yang akan selalu kuingat, sampai kapanpun, di kota itu.

###

Terlalu banyak kenangan yang tidak akan bisa kulupakan disana. 6 tahun terasa cepat, masa SD terasa singkat, namun ada ribuan ingatan yang akan terus dikenang. Kenangan-kenangan yang indah disana, di kota itu, di Jayapura.

malam di Jayapura