Tempat parkir motor utara ITB mungkin menjadi area paling memprihatinkan di lingkungan kampus. Padatnya motor yang diparkir mulai menjadi pemandangan biasa sejak tahun ajaran baru 2010/2011 ini. Siapa yang salah? Mahasiswa yang kelewat banyak yang membawa motor? Pihak kampus yang tidak bisa mengakomodasi kebutuhan mahasiswanya? Atau tidak ada yang bisa disalahkan karena memang sebesar itu lahan yang ada?

Ada beberapa opsi yang bisa dipikirkan, seperti membuka lahan parkir baru di luar kampus, atau membuka parkir di dalam kampus alias mahasiswa bisa parkir di depan prodi nya masing-masing, atau opsi yang akan saya bahas di paragraf selanjutnya, yaitu membuat parkir above-ground. Sounds crazy?

Parkir above-ground memiliki kelebihan yaitu kita seperti tidak menambah lahan parkir, karena perluasan area bukanlah di permukaan tanah. Dan saya pikir pun mobil dan motor akan bisa masuk ke dalam sehingga bisa mengurangi kepadatan jalan di area belakang luar kampus. Mengapa ini tidak terpikirkan? Bukankah kita memiliki otak-otak cemerlang dari sipil, planologi, arsitektur, material, dan mungkin belasan jurusan lain yang dapat membantu proyek ini? Mahasiswa tidak mungkin disalahkan pada kasus ini, karena mereka membayar untuk parkir. Masalahnya sekarang, dikemanakan uang-uang tersebut? Bukankah bisa dianggarkan untuk opsi ini? Sering saya mendengar tentang keluhan dan pemikiran teman-teman ITB tentang jalanan kota Bandung yang padat, namun untuk apa kalau di dalam kampus pun sudah ada masalah?

Puncaknya adalah kemarin Jumat, 8 Oktober 2010 saat parkir selatan ditutup untuk persiapan Pasar Seni 2010, sehingga motor terkonsentrasi di parkir utara. Baru jam 2 siang saja, motor keluar susahnya minta ampun, saya tidak menyalahkan petugas parkir, justru mereka yang berjasa karena telah susah payah mengatur letak parkir motor agar lahan yang ada bisa dipakai maksimal. Peran mereka semakin terlihat karena membuat keputusan berani dengan menutup jalur masuk motor, padahal sudah ada belasan motor yang mengantri masuk. Mungkin kepadatan motor hari Jumat itu, sampai memaksa petugas untuk menutup pintu masuk, akan saya temui lagi pada tahun ajaran depan jika kampus tidak segera bertindak.

Tulisan ini saya buat hanya untuk kebaikan ITB, kampus yang saya banggakan, tidak lebih dan tidak kurang.

Salam ganesha, bakti kami untukmu Tuhan, bangsa, dan almamater! MERDEKA!!