Bapak adalah orang terkalem yang pernah saya temui. Beliau jarang marah, namun jangan tanya bagaimana perasaan kami, anak-anaknya, kalau bapak sudah marah. Semua terdiam mendengarkan rentetan kata-kata efektif dan cerdas dari beliau sehingga kami hanya bisa menundukkan kepala sambil menyesali kesalahan. Sifat kalem bapak merupakan akibat dari rentetan nasib buruk yang sudah menghinggapi beliau sejak kecil. Bapak adalah anak terakhir dari 5 bersaudara, kakek saya meninggal saat bapak masih berumur 5 tahun, sehingga beliau bersekolah dari kiriman kakak-kakaknya yang tidak selalu dikirim tiap bulan.

Bapak adalah salah satu orang tershaleh yang pernah saya temui. Jika sedang di rumah, bapak sering mengajak kami shalat magrib berjamaah dan menekankan betapa pentingnya shalat berjamaah setelah kami berkeluarga nanti. Setelah shalat, kadang bapak mengajak kami untuk membaca yasin bersama, mengirim doa untuk bapak ibunya kata beliau. 2-3 tahun terakhir ini bapak sering shalat di masjid ketika azan berkumandang, biasanya saya baru bergegas mengambil air wudhu ketika beliau keluar kamar memakai sarung.

Bapak adalah orang tergigih yang pernah saya temui. Beliau memilih untuk tidak menyerah kepada nasib, dulu saat kuliah, di saat kondisi keuangan beliau yang kacau karena kiriman uang yang tidak menentu dari kakak-kakaknya, bapak memilih untuk sekolah double S1 dan D1. Bapak mengambil D1 matematika agar bisa mencari penghasilan dengan menjadi guru. Alhasil setahun itu bapak sibuk sekolah bolak-balik antara S1 dan D1 nya, terlebih lagi saat ujian. Alhamdulillah semua lulus dan beliau bisa mencari uang dari mengajar dan meneruskan kuliah sampai S2. Tidak dapat saya bayangkan perjuangan bapak saat itu. Waktu bapak menceritakan hal tersebut, saya hanya diam, betapa mudahnya perjuangan saya sekarang dibandingkan dengan beliau.

Bapak mungkin juga salah satu orang terhemat yang pernah saya temui. Pernah suatu waktu saat dinas, bapak memilih menginap di hotel biasa, esoknya bapak langsung ditegur atasannya karena tidak sepantasnya pegawai di kantor beliau menginap di hotel seperti itu. Untuk menghemat uang kantor kata bapak, namun demi citra perusahaan beliau memilih mengalah dan pindah hotel. Bapak juga jarang belanja, pada weekend beliau memilih untuk stay di rumah dan berkumpul dengan anak-anaknya karena cuma akhir weekend lah waktu beliau untuk pulang. Bapak kerja di Jakarta dan kos disana.

Bapak adalah satu-satunya orang di keluarga yang mendukung aktivitas terbaru saya, yaitu naik gunung. Sulit sekali minta persetujuan ibu kalo soal naik gunung, tapi tidak dengan bapak. Ternyata sikap setuju bapak dikarenakan naik gunung adalah keinginan lama bapak yang belum pernah dilakukannya. Dan ternyata masih ada beberapa lagi keinginan beliau yang belum bisa kesampaian, seperti sekolah di luar negeri yang selalu beliau tekankan pada saya. Ya, disini saya katakan saya siap melakukannya untuk saya sendiri dan untuk meneruskan cita-cita beliau.

Tulisan ini saya buat untuk bapak yang berulangtahun 20 Oktober kemarin. Semoga di usia yang ke 52 tahun ini bapak bisa menjadi seseorang dengan derajat yang lebih tinggi di mata Allah SWT dan masyarakat. Semoga bapak bisa melakukan cita-cita lain yang belum kesampaian sampai sekarang. Amin…

Kemarin rabu 20 Oktober 2010, jam 06.34 saya menelepon bapak untuk mengucapkan selamat ulang tahun, lama kami bicara hanya 1 menit 7 detik. Kami hanya menanyakan kabar dan mengobrol sedikit. Kami memang selalu begitu kalau di telepon.