SMA 3 Semarang

Kalau diingat-ingat, masa setahun terbaik saya adalah saat kelas 2 SMA. Saya mendapat kelas dengan teman-teman yang bisa diandalkan soal akademik dan sepakbola. Soal akademik, mungkin hanya ada beberapa orang yang bisa saya andalkan, namun beberapa orang itu sudah cukup mengingat kelas 2 SMA bukanlah waktu saat saya sedang serius sekolah hehe. Nah soal sepakbola, ini masalah lain.

Sekolah saya, SMA 3 Semarang, mempunyai agenda rutin Liga Sepakbola Ganesha (LIGASA) setiap tahun dimana semua kelas 1 dan 2 bertanding memperebutkan trofi. Konsep kompetisi adalah turnamen, jadi pembagian dalam beberapa grup diakhiri dengan 2 tim yang bertanding di final. Memang kami tidak bisa juara, tidak bisa mencapai final malah, kelas kami 2IPA10 hanya mencapai perdelapan final. Namun hal ini jauh lebih berkesan bagi saya daripada saat kelas 1, dimana kelas saya mendapat juara ketiga di LIGASA sebelumnya, karena saya bisa bermain full di setiap pertandingan. Teman-teman 2IPA10 lebih percaya dengan kemampuan saya sehingga saya selalu ditempatkan dalam starting line-up dalam setiap pertandingan.

Soal gaya main, kami juga kompak. Setelah pulang sekolah, sering kami kongkow-kongkow dulu setelah shalat zuhur sekedar untuk ngobrol dari soal pelajaran sampai soal cewek. Anak-anak cowok juga sering makan bareng kalau ada yang sedang traktiran ulang tahun atau baru jadian. Bahkan pernah mereka semua, 18 orang cowok, main ke rumah saya. Padahal rumah saya terhitung jauh dari sekolah, sekitar 10an kilometer, namun karena memang mau main ya apa boleh buat.

Saat kelas 3 SMA, saat ulang tahun pun saya masih mentraktir beberapa teman kelas 2. Waktu untuk traktiran pun saya bedakan agar saya mendapat suasana saat kami bersama dulu, sangat jarang untuk berkumpul bersama mereka saat itu karena kelas 3 memang masa rodi untuk belajar. Dan memang, berkumpul bersama mereka selalu menghadirkan kegairahan tersendiri, kami bercanda, tertawa, saling mengejek, dan melupakan sejenak rutinitas sekolah kami.

Pada paragraf sebelumnya saya menulis kalau kelas 2 SMA bukanlah saat saya serius sekolah dan saya berani bertaruh semua teman saya memikirkan hal yang sama. Namun terhitung 5 orang dari kelas 2IPA10 yang dapat menembus ITB, lumayan banyak menurut saya jika melihat jumlah angkatan saya yang hanya 20an orang yang ke ITB. Jurusan anak-anak 2IPA10 pun bukan jurusan sembarangan, merupakan jurusan terfavorit di setiap fakultasnya, kecuali saya tentunya. Mereka berempat tersebar ke teknik geologi, teknik perminyakan, matematika, dan teknik kimia.

Pernah juga saya menginap di sekolah untuk mengikuti acara klub astronomi atau Rohis. Setelah larut malam, kami beberapa orang berjalan-jalan dengan motor untuk sekedar menikmati suasana malam kota Semarang. Daerah Simpang Lima yang hanya berjarak 5 menit dari sekolah merupakan tujuan utama kami. Setelah puas, kami mampir ke warung nasi kucing untuk menikmati susu jahe dan kembali ke sekolah untuk tidur di musholla.

Soal guru, bisa dibilang kami mendapat guru ter-atur. Guru bahasa Indonesia kami, membiarkan saja beberapa orang dari kami masuk kelas padahal telat setengah jam karena belum beres makan setelah olahraga. Guru fisika yang tidak pernah mengajari kami pelajaran fisika, karena lebih memilih untuk mengajari papan tulis, hanya “menghukum” teman saya yang bermain catur di belakang kelas dengan menyindirnya. Guru matematika kami, yang senang bersenandung sendiri, mau mendengar curhat kami yang masih lelah setelah bertanding bola kemarin sore. Guru olahraga apalagi, setiap olahraga kami diperbolehkan bermain bola.

Waktu saya sakit cacar dan dirawat di rumah sakit selama seminggu, puluhan teman saya mendatangi saya ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus membawakan kue ulang tahun. Saya sakit bertepatan dengan hari ulang tahun, terhitung 3 kue tart yang saya dapatkan saat itu karena mereka datang dalam beberapa gelombang. Saat itu saya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan disana. Tidak perlu “proses berlarut-larut” kan untuk membuat sekian puluh orang menjadi kompak?

Saya pasti menolak untuk mengiyakan kalau misalnya ada seseorang yang menawarkan saya untuk kembali ke masa tertentu untuk memperbaiki keadaan, karena manusia tidak akan belajar kalau bisa seperti itu. Namun jika tawarannya diubah, yaitu kembali ke masa lalu beberapa hari namun keadaan tidak akan berubah, jawaban saya adalah “saya akan kembali di masa kelas 2 SMA, terserah tanggal dan bulan apa, karena setahun itu sama saja bagi saya”.

salah satu kelas di deretan kanan adalah kelas saya

Kalau tidak salah, terakhir kalinya kami berkumpul adalah saat buka puasa bersama 3 tahun yang lalu, waktu yang sangat lama untuk persahabatan yang sudah terlanjur erat.