Memang, setiap film Hollywood selalu mengisahkan suatu hal yang berbeda. Meskipun hanya film kartun misalnya, namun tetap ada dialog yang membuat saya sedikit merenung dan berpikir. Seperti dalam film Megamind yang barusan saya tonton.

Singkat saja, tokoh utama dalam film ini, Megamind, adalah tokoh antagonis dengan musuh bebuyutan yang bernama Metroman, seorang superhero berotot besar dan bersayap semacam Superman yang melindungi kota bernama Metro City. Nah, pada pertengahan cerita dikisahkan Megamind dapat membunuh si superhero dan dengan mudah menguasai seisi kota. Semua menjadi mudah tanpa kehadiran Metroman. Kesenangan Megamind berubah menjadi kesedihan pada akhirnya, karena hari-harinya terasa hampa tanpa adanya lawan.

“Apa artinya menjadi jahat jika tidak ada pahlawan yang bisa melawanmu?”

Saya tidak akan membahas kelanjutan cerita, karena yang akan saya bahas adalah dialog Megamind tersebut. Ya, apa artinya menjadi jahat jika tidak ada yang melawan? Semua menjadi mudah dan membuat hidup seperti hampa karena tidak ada tantangan.

Saya setuju dengan dialog di atas, kebingungan yang sama mungkin akan dipikirkan si superhero jika berada dalam posisi sebaliknya, “Buat apa menjadi hero kalau tidak ada penjahat?”. Hero dan devil adalah pilihan setiap orang dan memang harus selalu ada keduanya di dunia. Untuk apa? Keseimbangan. Itulah jawabannya.

Alasan yang sama menurut saya menjelaskan kenapa Allah menciptakan karakter jahat dan baik sekaligus di setiap diri manusia. Agar setelah tercipta keseimbangan, setiap manusia akan memilih kemana dia akan berlaku, sebagai sisi baik atau sisi jahatnya. Tidak masalah bagi saya jika Anda lebih memilih sebagai devil karena itu berarti akan memunculkan sisi hero pada diri orang lain. Jika Anda menjadi devil yang sempurna, itu akan lebih baik lagi karena akan memunculkan lebih banyak karakter hero.

So what’s yours? Devil or hero?