Kebahagiaan sedang menyelimuti sepakbola indonesia. Apalagi kalau bukan 2 kemenangan besar tim Merah Putih di ajang Piala AFF 2010. Malaysia dihajar 5-1, sedangkan Laos dibantai 6-0, cukup untuk membalas sakit hati atas kekalahan 2-0 pada SEA Games 2009 lalu. Margin gol 11-1 dengan poin 6 memastikan kita menempati juara grup A. Tim-tim dengan tradisi kuat seperti tidak ada taringnya saat ini. Singapura kemarin susah payah menang 2-1 atas Myanmar. Vietnam yang awal turnamen langsung menghentak dengan kemenangan 7-1, kemarin seperti kehabisan akal menembus pertahanan Filipina dan malah kalah 0-2. Malaysia sudah dihabisi. Tinggal Thailand, musuh bebuyutan Indonesia yang selalu membawa kegairahan tersendiri saat 2 negara bertemu. Sialnya, Thailand juga hanya bisa meraih 2 poin dari 2 hasil imbang dari Laos dan Malaysia. Apakah kita patut optimis? Apakah mimpi mengakhiri penantian panjang di ajang Piala AFF berakhir dengan menjadi juara tahun ini? Optimislah. Bermimpilah. Sudah cukuplah 3 kali kita gagal di babak final. Tapi sayang, bukan itu yang ingin penulis ulas kali ini.

Christian Gonzalez. foto : bola.vivanews.com

Tulisan ini adalah tentang cara baru tapi lama yang dilakukan tim nasional Indonesia. Hal yang sudah dilakukan Singapura 5 tahun silam dan menjadikan mereka juara turnamen saat itu. Hal yang pernah memaksa Harry Redknapp angkat suara dan menyatakan keberatan saat ada wacana Manuel Almunia yang berwarga Spanyol akan dijadikan orang Inggris karena sulitnya mencari “kiper Inggris tanpa blunder” saat itu. Ya tepat, hal yang saya maksud adalah naturalisasi pemain. Ada 2 pemain yang disini, yaitu Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Untuk Irfan 50-50 lah karena memang ayahnya orang Indonesia. Tidak bisa dikatakan naturalisasi juga sebenarnya, hanya PSSI sedang beruntung ada anak Indonesia di Belanda yang berbakat sepakbola, jadi dia bagus bukan hasil dari bermain di Liga Indonesia. Untuk Gonzalez lain lagi, dia murni orang Uruguay yang sudah lama bertempat tinggal di Indonesia ( 7 tahun) dan kebetulan talentanya memang istimewa, top skorer Liga Indonesia 4 musim berturut-turut.

Banyak dari kita yang menghujat Singapura saat mengalahkan Indonesia di final Piala AFF 2007 karena mereka menggunakan banyak pemain naturalisasi. Logikanya, banyak juga yang kurang puas karena kita melakukan hal yang sama meskipun hanya 1-2 pemain. Bisa saja ini adalah wujud dari kelelahan PSSI karena jarangnya prestasi yang ditorehkan timnas yang berakibat kalahnya kita dalam pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Atau bisa saja ini rencana PSSI agar prestasi timnas bagus sehingga Pak Nurdin Halid yang begitu mereka segani aman-aman saja di kursinya. Entahlah, hanya Tuhan dan jajaran orang-orang ber-jas disana yang tahu. Semoga keputusan meng-Indonesia-kan Irfan dan Gonzalez bukanlah keputusan terburu-buru dari mereka.

Nah, masalahnya lagi, entah ini masalah atau keuntungan sebenarnya, penampilan mereka berdua cukup menonjol di 2 pertandingan kemarin. Keduanya rajin memberi ancaman ke barisan belakang Malaysia dan Laos dan total mencetak 3 gol. Alhasil, talenta lokal seperti Bambang Pamungkas harus tersingkir ke bangku cadangan. Bisa dibayangkan kalau Christian Gonzalez “berikutnya” berhasil dinaturalisasi, maka akan semakin banyak pemain Indonesia yang akrab dengan bangku cadangan…

Sekali lagi saya katakan, ini bukanlah hal baru karena toh sudah banyak negara lain yang terlebih dahulu melakukannya. Tulisan ini pun dibuat bukan untuk melawan kebijakan PSSI soal naturalisasi, sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengajak orang lain berpikir kalau ada pendapat seperti ini di luar sana. Mereka orang-orang yang lebih mengutamakan nasionalisme dibandingkan sebuah trofi…