Dua hari yang lalu saya mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman. Meskipun begitu saya merasa ada yang kurang. Setelah beberapa lama berpikir, barulah saya ingat seseorang. Orang yang tidak pernah lupa dengan ulang tahun saya 6 tahun terakhir ini. Orang yang selalu menuliskan “Ya, sorry baru inget” di awal SMS ucapan ulang tahun ke saya.

Aneh rasanya menulis kenangan tentang seseorang. Rasanya baru kemarin saya mengenalnya dan sekarang dia sudah pergi untuk selamanya. Seorang wanita aktif, modern, berpikir ke depan, dewasa, dan cerdas. Setiap orang pasti berpendapat yang sama dengan saya saat itu. Kombinasi potongan rambut, kacamata, kemampuan komunikasi, dan otak cerdasnya lah yang membuat dia dinilai seperti itu.

Setelah saya ingat-ingat, “kemarin” yang saya tulis di atas ternyata 6 tahun yang lalu. Ya, saya mengenalnya sejak kelas 3 SMP. Saya ingat dia selalu datang pagi ke sekolah, saya ingat dia sering mengingatkan saya untuk piket karena wali kelas kami sangat tegas soal ini, saya ingat kita pernah bersaing soal nilai, saya ingat kalau 6 bulan terakhir pada kelas 3 SMP saya selalu menanyakan tugas padanya, saya ingat SMS khasnya karena dia memanggil saya dengan “Ya” bukan dengan “Re” seperti kawan lain, saya ingat dengan senyumnya, saya ingat dengan suara khasnya, saya ingat, selalu ingat dengan itu.

Kami kemudian sudah jarang kontak setelah itu karena SMA kami berbeda. Sekolah baru, teman baru, kesibukan baru, telah membuat kami lupa satu sama lain. Saat kuliah pun sama saja, karena saya pergi ke Bandung dan dia kuliah di Semarang, mengambil jurusan arsitek di salah satu perguruan tinggi swasta disana. Semua terasa baik-baik saja sebelum saya mendapat SMS dari seorang teman lama pada akhir Juni kemarin. SMS itu berisi tentang dia yang sakit parah di rumah sakit dan memang sudah rawat jalan berbulan-bulan yang lalu. Saya langsung mengutuki diri sendiri karena kenapa baru sekarang tahu berita itu. Dan beberapa hari kemudian SMS yang saya takutkan datang juga, yaitu berita dia meninggal dunia.

Saya tidak bisa bicara, ikut terdiam bersama dengan dunia yang langsung terasa sunyi. Lalu saya memastikan berita itu ke teman yang lain. Mereka tidak memberikan jawaban yang memihak saya. Saya sangat menyesal saat itu karena saya sedang di Bandung dan ada urusan disini. Lalu saya menelepon ibu, memberikan kabar buruk itu pada beliau. Saya meminta pada ibu untuk melayat dan menyampaikan salam saya untuk keluarganya…

Terimakasih kawanku sudah datang ke mimpiku beberapa hari setelah kamu tiada. Kamu tahu aku sangat ingin bertemu saat itu namun banyak tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan disini. Kamu tahu kalau aku sangat ingin melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya karena aku tidak bisa ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhirmu. Ah, kamu selalu tahu seperti waktu itu kamu pernah berbagi kursi duduk di bis saat aku sudah terlihat kelelahan berdiri sepanjang jalan.

Terimakasih kawanku sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Terimakasih kawanku telah mengajarkan kedewasaan, semangat, dan nikmatnya berkompetisi. Sebuah kehormatan pernah mengenalmu…

In memoriam of Rieza Dirga Agustin

November 1989 – Juni 2010