Jika ada ungkapan di balik pria hebat ada seorang wanita hebat, maka itu cukup untuk menggambarkan kedua orang tua saya. Bapak adalah seorang pria hebat, penyayang keluarga, cerdas, dan taat beragama, semuanya ada dalam diri beliau. Seperti pada postingan saya terdahulu, bapak mengalami kesulitan finansial sejak kecil, mencari uang kuliah sendiri, membangun semuanya dari nol, berlaku jujur dalam pekerjaan, seorang muslim yang taat, dan dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Namun kembali lagi, di belakang beliau ada seorang wanita yang tidak kalah hebatnya, ibu saya.

Ibu adalah seorang wanita mandiri. Beliau seorang pekerja kantoran, membawa mobil sendiri ke kantor, jago memasak, dan pintar menjahit. Bukti dari kemandirian beliau adalah sudah 3 tahun ibu tinggal sendiri bersama kami, anak-anaknya, karena bapak kerja di Jakarta. Tiap weekend biasanya bapak pulang melepas kerinduan dengan kami. Sudah dari dulu ibu mengatakan pada saya untuk mencari pasangan yang sama-sama bekerja karena wanita karier lebih teratur dan tahu bagaimana mengatur uang. Dan baru beberapa saat kemudian baru saya mengerti apa maksud ibu. Wanita karier memiliki wawasan, manajemen waktu, dan pergaulan yang lebih luas. Semuanya saya temukan dalam diri beliau.

Sudah berjalan setahun ini ibu mulai memakai jilbab. Saat saya menanyakan alasannya, beliau menjawab hanya ingin tampil lebih tertutup saja. Ibu adalah anak kelima dari delapan bersaudara. 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Ibu adalah anak perempuan terakhir yang sudah menutup dirinya dengan jilbab. Semoga keputusan itu adalah yang terbaik untuk ibu dan semoga ibu diberi kemudahan oleh Allah dalam menjalaninya.

Kalau sedang pulang ke rumah, saya sering ikut ibu ke kantor, jaraknya sekitar 20 menit. Kami pergi jam 06.45 pagi. Kami mengobrol banyak hal sepanjang jalan, tentang kuliah, cewek yang sedang saya dekati, tentang bapak di Jakarta, atau tentang rencana liburan lebaran tahun ini. Biasanya kami makan dulu setelah sampai di kantor ibu. Menunya? Makanan Jawa yang sulit saya temui “rasa asli” nya di Bandung. Seperti nasi pecel, gudeg, atau opor ayam. Setelah, itu saya pulang sendiri ke rumah menggunakan bis. Nah inilah bagian terseru dan tujuan utama saya ikut ibu ke kantor. Naik bis kota membangkitkan kenangan saya tentang Semarang. Suara mesin bisnya, lamanya bis ngetem yang membuat saya bisa melihat para penjual rokok saling berinteraksi, suara pengamennya yang sebenarnya tidak kalah dengan Iwan Fals, atau umpatan khas dari kondektur yang sudah lama tidak saya dengar. Apalagi trek bis melewati SMP dan SMA saya, semua puzzle masa lalu saya biasanya langsung tersusun saat itu.

Wajah saya adalah wajah ibu, senyum saya adalah senyum ibu. Itulah yang banyak orang katakan kepada kami. Ibulah orang yang melepas kepergian saya saat pertama kalinya ke Bandung. Ibu sendirilah yang mengantar saya ke stasiun. Ibulah orang yang membuat mata saya basah karena sepanjang perjalanan penuh kenangan itu ibu mengungkapkan rasa beratnya melepas anaknya untuk merantau, namun beliau mengalah demi pendidikan. Ibulah alasan utama saya ingin selalu pulang saat tahun pertama dulu. Ibulah orang pertama yang saya mintai pendapatnya saat ada masalah pribadi. Harus saya akui, sosok ibu saat saya sedewasa sekarang masih sama dengan sosok ibu saat saya kecil dulu.

Ibu adalah anugerah terbaik yang Allah berikan pada saya.

Tulisan ini saya buat untuk ibu yang sedang berulangtahun hari ini, 13 Desember. Semoga di usia yang ke 49 ini ibu dapat menjadi manusia yang lebih baik bagi Allah SWT, keluarga, dan masyarakat. Semoga semua keinginan beliau dapat tercapai dan segala tindakannya diridhai oleh Allah SWT. Amin…