Saya ingat saat masa SD dulu ketika saya dan adik saya sering bermain bola bersama tetangga yang lain. Kami berdua yang saat itu masih awam, terlihat kaku saat menggiring dan mengoper bola. Kami seenaknya saja menendang dan tertawa bersama teman-teman lain, menyenangkan sekali. Kami hanya berselisih 3 tahun dan sama-sama cowok sehingga sering bermain bersama. Selain bola, kami juga sering bermain play station, yang saat itu menjadi primadona, bersama. Bisa dipastikan, setiap selesai bermain hampir pasti kami bertengkar. Masalahnya selalu sama, yang kalah tidak terima, mengajak bertanding lagi, namun pihak menang tidak mau.

Saya ingat saat masa SD dulu ketika kami akan berpisah dengan pembantu yang sudah menemani kami berdua sejak lahir, namanya Mbak Nyarmi. Dia akan pulang ke rumahnya karena orangtuanya sudah menjodohkannya dengan seorang pria pilihan mereka. Kami berdua adalah yang paling sedih dan memohon-mohon agar Mbak Nyarmi tidak pulang. Mbak Nyarmi adalah tetangga ibu saya di kampung di Ngawi, Jatim sana. Saat mengantar Mbak Nyarmi kesana, kami juga menginap di rumah nenek beberapa hari, sekalian berlebaran saat itu. Pada hari ketiga, kami berdua ke rumah Mbak Nyarmi dan menanyakan kepadanya tentang kepastian apakah dia akan tetap tinggal disana atau akan ikut kami lagi pulang minggu depan. Mbak Nyarmi lalu mengantar kami pulang dan mengatakan kalau dia akan ikut kami. Sampai setengah perjalanan, dia menyuruh kami berdua pulang sendiri. Dia lalu berbalik pulang dan saya ingat saat itu adik menangis memanggil Mbak Nyarmi agar mengantar kami sampai ke rumah nenek. Mbak Nyarmi tetap berjalan pulang dan menyuruh saya menjaga adik sampai ke rumah nenek. Saya yang tahu itu sebagai tanda bahwa dia tidak akan kembali, menggandeng tangan adik dan mengajaknya pulang. Saya menangis. Kami berjalan beberapa langkah, lalu saya menoleh ke belakang, Mbak Nyarmi masih melihat kami, matanya berkaca-kaca. Air mata saya semakin deras namun sekuat tenaga saya mengajak adik pulang. Kami berjalan bergandengan tangan pulang, sambil terisak.

Saya ingat saat kecil dulu, adik selalu ingin sesuatu seperti yang saya punya. Mulai dari baju, mainan, sampai makanan. Waktu musim mainan crush gear, beyblade, dan tamiya dulu, adik sering ingin mainan yang sama dan selalu ingin ikut kemanapun saya main. Waktu puasa pun juga begitu. Kalau saya lagi rajin mengaji, dia juga ikut mengaji. Kalau saya tarawih di masjid, dia juga akan ikut ke masjid. Tidak terasa seiring waktu berjalan kami menjadi 2 orang yang bertolak belakang. Saya senang belajar dengan kesunyian, sedangkan dia sambil mendengarkan musik. Saya senang kaos polos, dia senang kaos ramai dengan gambar. Saya Manchester United, dia Arsenal. Diam-diam saya rindu dengan kesamaan dan kekompakan kami berdua..

Meskipun sudah sedewasa dan sebesar sekarang, kadang saya masih menganggap dia masihlah seorang anak kecil, dia masihlah seorang yang mau selalu menang, masih selalu ingin sama dengan saya, masihlah seorang anak kecil yang saya gandeng tangannya untuk pulang ke rumah. Tidak terasa sekarang dia sudah berusia 17 tahun.. Waktu berjalan begitu cepat..

Selamat ulang tahun adikku, Triananda Ufuk Agung Nugroho yang ke-17 tahun.. Semoga dapat menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, agama, dan masyarakat.. Semoga semua cita-cita dapat tercapai.. Semoga keinginan masuk ITB bisa terwujud.. Amiinn…

Dari kakakmu yang hanya bisa menulis untuk ulangtahunmu hari ini, 30 Desember 2010