Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang anak tertua, karena harus menjadi panutan. Saya pernah merasakan sedikit beban itu, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, memberikan contoh yang baik untuk kedua adik saya. Baik itu ucapan maupun tindakan, saya usahakan yang terbaik untuk mereka berdua. Maka dari itu, sungguh sangat berat beban orang yang mendidik saya dan kedua adik, yaitu anak pertama, kakak saya.

Saya dan kakak berselisih 5 tahun. Jarak yang cukup jauh membuat kami jarang bermain bersama, terlebih dia perempuan. Apalagi  lagi ada adik, yang saya ceritakan di post sebelumnya, semakin jelaslah perbedaan teman main kami.

Saya ingat saat kecil dulu kakak sering memarahi saya saat saya salah. Tentu saja ada kekesalan saat itu, namun itu dilakukan kakak tidak kurang karena rasa sayangnya kepada kami, adik-adiknya. Caranya saja yang seperti itu, maklumlah dia terlalu “senior” bagi kami saat itu. Ingat sekali dulu rumah kecil kami sering diwarnai teriakan dan tangisan, sampai bapak-ibu bosan mengingatkan. Sangat menyenangkan mengenang masa lalu.

Saat sekolah dulu, saya sering curhat masalah cewek ke kakak. Dan dia sering memberikan masukan soal cara pdkt, namun jarang saya lakukan. Saya payah kalo soal cewek waktu itu wkwkwk. Semakin dewasa, saya semakin menjaga privasi soal ini, menjadikan kita jarang curhat-curhatan. Tanpa disadari, semakin lama kami memang semakin tidak klop. Banyak keputusan kami yang tidak satu suara, tahulah beda pikiran cowok-cewek.

Tapi bagaimanapun juga, saya selalu mengharapkan yang terbaik untuk kakak. Semoga dia diberi jalan terbaik dalam hidupnya. Begitu juga untuk ulang tahunnya pada 2 Januari kemarin, semoga Mbak Inda selalu diberikan kemudahan oleh Allah, dilancarkan rezeki, jodoh, dan ilmu.

Maaf Mbak, baru nulis sekarang, udah lewat 4 hari padahal. Ya begitulah, alasan klasik, banyak urusan yang bikin baru sempet nulis lagi. Sukses ya…