Segala sesuatunya memang harus dipikirkan, tapi ada kalanya resiko harus diambil. Maka dari itulah muncul istilah risk taker. Risk taker mendapat tempat tersendiri dalam sejarah. Dunia mencatat banyak kesuksesan yang awalnya dicetuskan atas nama ‘mengambil resiko’.

Contohnya Starbucks. Pada 1971 Starbucks awalnya hanyalah kedai kopi kecil di Seattle, kota dimana warganya lebih memilih kedai kopi di pojokan jalan untuk meminum kopi seharga 50 sen yang bisa diisi ulang. Warga Amerika tidak biasa melewatkan pagi tanpa segelas kopi dan adalah pilihan beresiko jika menjual kopi seharga 3 dolar. Pertanyaan menarik keluar dari CEO Starbucks saat itu, Howard Schultz : “Apa yang terjadi seandainya biji kopi Starbucks yang berkualitas dipadukan dengan keindahan dan keromantisan kedai-kedai Eropa?”. Jawaban yang terhampar saat ini adalah 11.000 kedai kopi Starbucks yang tersebar di 37 negara. Starbucks berhasil memenangkan pertaruhan dan telah mengubah pandangan orang di seluruh dunia terhadap secangkir kopi.

Contoh lain adalah apa yang dilakukan Rafael Benitez saat final Liga Champions 2004/2005 melawan AC Milan. Liverpool yang ketinggalan 3-0 di babak pertama memilih untuk keluar menyerang. Dietmar Hamann dimasukkan untuk menggantikan seorang bek, Steve Finnan. Traore yang tampil buruk tetap dipertahankan oleh Rafa. Pilihan beresiko karena bisa saja mereka kebobolan lagi. Tapi bagaimana hasilnya? Liverpool berhasil menyamakan kedudukan dan menang lewat babak adu penalti. Laga di Istanbul itu merupakan salah satu final terbaik sepanjang sejarah dan saya beruntung bisa menikmatinya.

Tapi tidak selamanya resiko bisa ditipu. Contohnya seorang mahasiswa ITB disana. Dengan nilai yang pas-pasan, dia nekat memilih jurusan yang tertinggi. Tentu saja dia gagal. Namun ada yang bisa didapatkannya, yaitu kebanggaan. Dia puas dan bangga karena pernah mencoba. Dia tahu dengan pilihannya itu dia bisa saja terlempar ke tempat lain yang lebih sulit. Dia jatuh, lalu bangkit lagi. Dia mendapat lingkungan dan teman terbaik. Tuhan memang tahu apa yang terbaik bagi makhluknya. Akhir cerita tetaplah happy ending.

Lalu kau, kawanku disana, yang akhir-akhir ini sambil berjalan pun masih saja menundukkan kepala. Tidak ada salahnya mencoba boy. Tidak ada akhir yang buruk disini, karena itu artinya cerita memang belum selesai. Semoga masalahmu cepat selesai dan kita bergerak bersama kesana. Kawan-kawan lain menunggu dengan penuh harap disini. Aku bangga kepadamu kawan, karena pertimbanganmu bukan soal pribadi, namun karena orang banyak. Kau sudah semakin dewasa memang, seperti yang dikatakan orang-orang.

Tapi apapun pilihanmu, semoga itulah yang terbaik untuk semuanya. Lelaki boleh memilih dan tidak memilih, namun tidak boleh menyesal. Tegaklah kawan, angkat kepalamu, lantangkan suaramu. Lelaki sepertimu tidak dilahirkan untuk duduk diam di pojok ruangan dengan kepala tertunduk.