Ada sedikit kelegaan saat sebuah rekor berhenti.

Sedikit curhat kalo boleh. Dari SMP, saya Alhamdulillah selalu mendapat sekolah yang saya inginkan. 3 SMP di Jayapura, Balikpapan, dan Semarang, SMA 3 Semarang, masuk kelas IPA, dan yang terakhir masuk ITB. Semua itu awalnya adalah track record yang ingin saya jaga. Sebelum gagal masuk ke TM.

Kegagalan itu menyadarkan kalau ternyata saya hanyalah manusia biasa yang bisa jatuh. Ternyata saya tidaklah berbeda dengan orang lain. Perjuangan saya sama dengan mereka yang tidak diberi keistimewaan untuk selalu berhasil. Dan ironisnya, kegagalan ini memaksa saya untuk mengakui kalau ternyata saya ingin rekor ini berhenti.

Sama seperti yang dialami Manchester United tempo hari. Rekor tidak terkalahkan selama 29 pertandingan akhirnya berhenti di tangan Wolverhampton. Tim juru kunci yang mungkin akan turun kasta akhir musim ini. Apa yang mengganggu saya sehingga lega rekor ini berhenti? Karena fokus mereka adalah menyamai prestasi Arsenal musim 2003/2004 yang tidak terkalahkan dalam 49 pertandingan. Bagaimanapun, sebuah tim sepakbola bermain dan mencetak gol untuk meraih 3 poin, bukan untuk memecahkan rekor.

Rekor dibuat memang untuk dipecahkan. Tapi rekor yang sedang “tidak sengaja” dibuat menjadi cacat kalau tujuan utama si empunya adalah karena rekor itu sendiri. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita memakai rasa sakit hati atas kegagalan itu untuk bangkit?