Kenapa Tuhan menciptakan malam? Kenapa harus ada malam hari ketika ada siang yang lebih produktif?

Karena semua diciptakan berpasangan. Tuhan ingin semuanya adil, berimbang. Bintang tentu tidak bisa menampakkan kilau cahayanya seperti awan yang puas menampakkan keindahan dalam ketidakaturan bentuknya jika hanya ada siang hari. Kilau lampu kota tidak akan terlihat menawan seindah cahaya matahari yang membias pada setiap ombak yang mendebur di laut jika tidak ada yang bernama malam. Dan manusia akan bingung melakukan pembagian waktu jika tidak ada siang dan malam hari.

Malam diciptakan untuk waktu beristirahat setelah seharian beraktivitas. Malam menjadi pengingat manusia kalau semua hal ada batasnya. Mungkin saya adalah yang tidak mengikuti aturan main itu. Malam bagi saya bukanlah batas untuk berkreasi. Bahkan, ini yang menarik, malam adalah waktu yang ideal untuk mencari inspirasi.

Sudah bukan hal aneh jika tidak ada waktu pribadi bagi saya di siang hari karena aktivitas di kampus. Lalu masalah itu muncul, kapan waktu saya untuk menulis? Kapan ada cukup waktu untuk berpikir tentang apa kata yang akan saya tuangkan saat mendapat belasan ide tulisan pada siang hari?

Ya, jawabannya adalah malam. Ketenangan malam membangkitkan ide saya untuk menulis. Gelapnya malam membuat saya betah berlama-lama di depan laptop. Dinginnya malam merangsang saya untuk selalu menggerakkan jari di atas keyboard. Sedikit sulit untuk berhenti. Kata-kata seperti berebutan keluar untuk dirangkai.

Sekaleng kopi sering menemani saya. Apalagi kalau membuat majalah yang seperti tidak pernah beres meski sudah mengetik berhari-hari. Bahkan terkadang saya sering merasa bersalah kalau tidur terlalu cepat, karena tidak sempat merasakan sakralnya malam hari. Kesunyian, ketenangan, dan kegelapan malam bagi saya adalah waktu istimewa, yang sayang untuk tidak dinikmati.

Seperti malam ini, dan malam-malam sebelumnya.