Saya adalah tipe orang yang terbiasa dengan sarapan. Ingat sekali hampir tidak pernah saya melewatkan satu pagi pun, dari SD sampai SMA dulu, tanpa sarapan. Entah karena memang seperti itu faktanya atau sugesti, sarapan membuat saya lebih mudah berpikir. Sementara sarapan membuat cepat ngantuk bagi beberapa orang, saya malah beberapa kali masuk angin karena tidak sarapan.

Saat kuliah tahun pertama pun sama saja, kebiasaan baik itu masih bisa rutin dilakukan. Saya berangkat jam 06.15 pagi, dan masih ada banyak waktu untuk sarapan. Namun mulai kuliah tingkat kedua, saat jadwal dan tugas kuliah-praktikum yang tidak menentu, sarapan menjadi barang mahal. Masalah ada pada waktu. Kebiasaan teman-teman yang jarang sarapan pun menjadi mempengaruhi juga. Kalau dipikir lagi, ternyata bukan hanya kekacauan dari kuliah-praktikum saja masalah saya saat ini. Bisa dari kepanitiaan himpunan, sifat malas yang sering hinggap, atau majalah himpunan yang butuh banyak waktu untuk digarap, semakin membuat langka waktu untuk sarapan.

Di saat merenung seperti ini, saat malam tenang seperti ini, ingin rasanya pulang ke rumah. Tidak usah muluk-muluk, saya hanya ingin melakukan hal sederhana, hal yang sudah saya lakukan bertahun-tahun, yaitu sarapan bersama bapak ibu. Kami sering melakukannya saat saya sedang pulang ke rumah. Tidak perlu makanan mahal, tidak perlu obrolan berbobot, tidak perlu rentang waktu yang lama. Hanya dengan sepiring nasi tempe sambal terasi dan secangkir teh, cukup dengan obrolan ringan seputar kuliah dan cewek yang sedang saya dekati, kurang dari satu jam saja, cukup dengan itu.

gambar : thechangeblog.com

Sepertinya itu cukup untuk menggantikan sarapan saya yang sudah hilang berminggu-minggu ini.