Orang yang akrab dengan kegagalan biasanya menjadi orang yang lebih kuat. Kegagalan menempanya untuk menjadi lebih tegar dalam menyikapi kekurangan. Namun tidak dengan saya.

Rasanya banyak kegagalan yang menghampiri akhir-akhir ini, namun tetap saja saya lemah dalam menerimanya. Minder, kecewa, stress, masih saja saya rasakan. Ya, saya ternyata belum akrab dengan kegagalan, saya akui itu. Mungkin ini pengaruh dari masa kecil saya yang selalu “mendapatkan apa yang saya targetkan”.

Seperti kegagalan terakhir ini. Saya dan teman-teman sudah berdiskusi, merencanakan apa yang terbaik untuk semuanya, rapat sampai pagi. Namun tetap saja bukan hal yang mudah mengubah persepsi orang. Ya sudahlah, semoga ini yang terbaik untuk semuanya.

Terimakasih saya ucapkan untuk teman-teman. Terimakasih telah memberi kepercayaan pada saya. Terimakasih telah memberikan pengalaman memorable ini, padahal setahun lalu saya bertekad untuk tidak ingin menjadi bagian tim seperti ini, namun kesungguhan kalian mengalahkan semuanya. Maaf jika saya belum bisa memberikan apa yang diharapkan. Jujur ini merupakan pengalaman pertama bagi saya.

Harapan saya kita bukanlah “satu tim” lagi setelah ini, mari kita bergabung dengan teman-teman lain di luar sana. Untuk mewujudkan tujuan yang telah kita rencanakan, untuk mewujudkan mimpi yang membuat kita menghabiskan bergelas-gelas kopi, untuk mewujudkan angan yang membuat kita memaksa mata ini terus terjaga. Untuk mewujudkan TERRA yang lebih baik.

Tulisan ini terinspirasi dari blog Desy Caesary. Dan saya mengutip sedikit kalimat darinya.

“Ada dua kertas : yang satu kosong, yang satu penuh dengan coretan. Kertas yang kosong sudah pasti bersih, bagus. Tapi, jangan langsung menilai kalau kertas satu lagi, yang penuh dengan coretan itu kotor, jelek, gak bagus. Karena kita bisa lihat coretan-coretan itu menjadi suatu lukisan yang indah.”