Ada sebuah romantisme tersendiri yang saya rasakan saat membaca novel ini.

gambar : goodreads.com

Yang pertama adalah saat penulis menceritakan masa kecilnya yang begitu memprihatinkan di kota apel, Batu, Malang. Tentang bagaimana sebuah rumah kecil dihuni oleh 7 anggota keluarga, tentang bagaimana sang ayah dan ibu yang membanting tulang sampai meminjam uang untuk memenuhi anak-anaknya, atau cerita tentang penulis yang tidur berpindah-pindah tempat karena tidak memiliki kamar sendiri. Hal ini memang tidak mengingatkan apa-apa tentang masa kecil saya, tidak sama sekali. Namun, ini mungkin memberi “gambaran” tentang masa lalu orang lain yang ceritanya menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya, yaitu bapak.

Ya, cerita bapak tentang perjuangan masa kecilnya sampai bisa menjadi “orang” seperti sekarang sering sekali beliau ceritakan pada kami anak-anaknya. Harapan beliau, kami harus menjadi lebih dari bapak karena kami mengalami kesulitan yang lebih ringan. Kami bisa les bahasa Inggris, makan 3x sehari, buku bisa dibeli kapan saja, dan dekat dengan teknologi. Semoga kami bisa mewujudkan hal itu kepada bapak, dan kepada ibu. Amin..

Romantisme kedua adalah saat penulis menceritakan tentang kehidupannya di kota the Big Apple, New York. Saat penulis menceritakan indahnya musim semi, saat menceritakan tentang masakan dari berbagai negara yang bisa dikunjunginya tiap saat, saat menceritakan tentang Broadway yang terkenal itu, atau saat menceritakan pengalamannya berjalan kaki melewati lampu kota gedung pencakar langit New York. Semua begitu indah terdengar.

Saya adalah penggemar novel motivasi yang merupakan “based on true story”, maka tidak heran saya merekomendasikan buku ini. Ringan, bahasa sederhana tapi mendadak menjadi melankolis di beberapa bagian, seharusnya hanya memakan waktu seharian untuk membacanya bagi para pembaca senior. Bagi yang percaya statistik, ratingnya di Goodreads bernilai 3.56 skala 5. Bukan angka yang baik memang, silakan melihat sendiri reviewnya disini.

OK, selamat buat Mas Iwan Setyawan. Senang sekali ada penulis berbakat lain di negeri ini. Jaya terus Indonesia!