Kemarin sempat diajak mampir ke perpustakaan kantor bapak di Pertamina Pusat, Jakarta. Tata letak rak bukunya rapi, enak dilihat, buku-buku perminyakan lengkap, dan tentu saja ber-AC haha. Yap, saya peduli dengan global warming, namun tinggal di Jakarta barang semalam saja tanpa pendingin ruangan adalah mimpi buruk. OK, inilah gambaran perpustakaannya.

Sebenarnya maksud bapak mengajak saya kesini untuk mencari referensi materi kuliah. Memang sih, kumpulan bukunya lengkap. Bahkan bisa menjadi tempat sempurna saat mengerjakan skripsi nanti. Namun pikiran saya sedang tidak kesana kemarin. Mata saya tidak jauh-jauh dari kumpulan majalah di sisi lain perpustakaan hahaha.

Bercerita tentang perpustakaan tidak lengkap bila tidak meresensi sebuah buku. Yap, mata saya jeli melihat buku menarik di pojok rak. Judulnya adalah Letters from Aceh. Kenapa malah membahas buku seperti itu di perpustakaan perusahaan migas? Peduli amat haha.

gambar : ebay.com

Dilihat dari judulnya, bisa ditebak buku ini dibuat saat tsunami Aceh di penghujung 2006 silam. Letters from Aceh berisi surat dari anak-anak korban tsunami Aceh, Jakarta International School, dan dari seluruh penjuru dunia. Isi suratnya tentang simpati terhadap Aceh dari kacamata anak kecil, seperti menanyakan dimana rumah mereka sekarang, bagaimana kabar keluarga mereka, atau kapan mereka bisa bersekolah lagi. Semua surat dituliskan kembali dalam bahasa Inggris, lengkap dengan foto-foto siswa Aceh. Buku yang menyentuh. Lebih menarik untuk dibaca dibandingkan deretan buku Physical Geology yang ada beberapa edisi di rak seberang. Ini salah satu halamannya yang saya foto.

OK, sekian dari saya. Tetap budayakan membaca. Seperti slogan perpustakaan Pertamina : The Leaders are Readers.