Saat di Jayapura dulu, kompleks perumahan keluarga kami berdekatan dengan rumah penduduk asli. Mata pencaharian utama penduduk pribumi di sana setahu saya adalah berdagang di pasar atau mencari ikan. Karena rumah dekat dengan pantai, maka tentu banyak dari mereka yang menjadi nelayan. Ya bisa dibayangkan lah bagaimana kesenjangan yang terjadi di area kompleks kami. Yang masih lekat di ingatan saya adalah anak-anak mereka.

Setahu saya, keluarga penduduk pribumi yang berada di dekat kami rata-rata memiliki banyak anak. Bisa 3 sampai 4. Kadang-kadang mereka menawarkan pada kami untuk mengambilkan buah kelapa, dengan bayaran seadanya. Kadang mereka juga menjual ikan pada kami. Pakaian yang mereka kenakan seadanya, bahkan sering tanpa baju. Dan satu hal, ini yang tidak akan pernah saya lupa, beberapa kali mereka mencuri pakaian kami. Menariknya, saya pernah menangkap basah seorang dari mereka sedang mengendap-ngendap di dekat jemuran belakang rumah, namun konyolnya justru saya yang cepat-cepat sembunyi, saat dilihat lagi si pelaku sudah kabur lengkap dengan bajunya. Esoknya, kaos sepakbola Parma milik adik saya terlihat dipakai oleh seorang anak kecil yang berjalan dengan tenang di depan saya.

Tidak adil jika hanya diceritakan sisi buruknya. Hebatnya, mereka masih semangat untuk bersekolah, setidaknya sejauh yang saya lihat. Ada dari mereka yang masuk sekolah favorit, meskipun dengan seragam menguning dan kusut tidak disetrika. Saat hari raya pun mereka berkunjung ke setiap rumah kami, setidaknya mereka masih sadar untuk bersosialisasi yang sayangnya dari kacamata beberapa orang kompleks mereka hanyalah sedang mencari makanan dan uang jajan. Mereka juga taat beragama, pada hari Minggu pagi gereja-gereja sudah penuh penduduk pribumi berpakaian rapi. Satu hal yang unik disana, kebanyakan toko tutup pada hari Minggu.

Mungkin ini tidak se-menyentuh kisah anak-anak Belitong dari Andrea Hirata. Saya hanya ingin memberi gambaran kalau masih ada anak pribumi di belahan lain negeri ini yang butuh uluran tangan. Betapa beratnya mereka sampai ada yang mencuri pakaian dari warga pendatang. Mereka menjadi tamu di negeri sendiri. Saya bersyukur pernah hidup di Bumi Cendrawasih sehingga bisa merasakan hidup berdampingan dengan mereka.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang masih sering mengeluh di tengah kenyamanan hidup mereka. Tidak ada salahnya mengeluh tentang ponsel yang sering error, pakaian yang kelunturan saat di-laundry, atau untuk nilai C yang tertera di transkrip. Namun sesekali lihatlah ke bawah, masih beruntung punya ponsel, pakaian bagus, dan sekolah di tempat terpandang. Masih ada yang tidak memilikinya di luar sana.

Be grateful, don’t give up, and finish something.

 

Bersikap baiklah, karena setiap orang yang kau temui mungkin sedang mengalami pertempuran yang lebih hebat – Plato