“Kapan arep mulih nang Smg?! Ibuke lan adik2e wis podo kangen” (kapan pulang ke Semarang? Ibu dan adik-adik sudah pada kangen).

SMS bapak pada tempo hari itulah yang mengirim saya semalam lebih cepat untuk pulang ke rumah. Tampaknya saya memiliki hobi yang sedikit menjengkelkan untuk orang rumah, yaitu jarang pulang. Mulai dari nunggu nilai keluar lah, ngurus wisuda Juli lah (padahal cuma jadi staff, logistik pula), bikin laporan kulap lah, padahal ujung-ujungnya main pingpong di himpunan hahaha.

Di malam yang tenang ini, setelah beberapa bagian kota saya telusuri, beberapa rekaman masa lalu mulai terapung di kepala. Tersadar dalam diam, melihat wajah-wajah pinggir jalan yang banyak berubah, ternyata sudah sekian lama saya tidak melewati jalan-jalan ini lagi. Ternyata benar memang se-jarang itukah saya pulang, kalau pulang pun saya lebih memilih berdiam diri di rumah.

Saya tinggal di daerah Banyumanik, kawasan sedikit ke luar kota yang masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Terlebih lagi setelah mulai dibangun jalan tol baru Semarang-Solo, yang belum beres-beres dirampungkan dari zaman saya SMA dulu. Banyak bangunan baru yang meramaikan Banyumanik yang awalnya sepi tenteram ini, mulai dari toko buku, restoran, ruko, dan swalayan. Bisa dibayangkan betapa bingungnya saya saat melewati jalanan Banyumanik yang mulai menggeliat sebagai kawasan bisnis baru, setelah sekian tahun tidak “sempat” lewat.

Di malam yang tenang ini, ditemani segelas susu jahe khas nasi kucing pinggir jalan ini, saya mencoba kembali merangkai memori lima tahun di Semarang yang menyenangkan (hanya 4 tahun kalau SMA dulu ternyata jadi masuk kelas akselerasi, syukurlah). Terlalu banyak hal yang terekam kuat. Terimakasih kepada bapak dan ibu yang sudah sabar membimbing, guru-guru yang sudah mendidik, dan teman-teman SMP dan SMA yang telah membentuk karakter saya seperti saat ini. Insya Allah saya akan berusaha membuat kalian semua bangga karena telah mengenal saya.

Ya tampaknya saya harus lebih rajin pulang, apalagi ibu sepi di rumah karena kakak dan adik juga akan kuliah di luar kota mulai tahun ajaran depan. Tapi jelas itu sedikit sulit untuk semester ini, karena “rumput Saraga” menahan kaki-kaki saya.

 

Maaf kalau ada yang tidak nyaman dengan ke-mellow-an ini, saya sendiri juga tidak sadar, pengaruh list lagu di winamp tampaknya…