http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/30/yang-terhormat-bapakibu-panitia-pelaksana-snmptn-2011-2012/

Membaca cerita dari Bina Nurrifri memancing saya untuk melempar uneg-uneg yang sudah ingin saya tulis sejak lama.

Langsung ke masalah saja.

Coba bayangkan, di tahun saya, yang berarti 3 tahun lalu saat musim masuk kuliah, saya diberi “kesempatan” 3 kali ujian untuk masuk ITB, yaitu 2 kali ujian mandiri dan SNMPTN. Dan tak terhitung berapa ujian mandiri di perguruan tinggi lain waktu itu. Dan sekarang, siswa hanya diberi 2 kesempatan untuk masuk ITB, yaitu dari SNMPTN undangan dan tertulis. Jalur undangan pun hanya memakai nilai rapot, sehingga sama saja artinya kalau hanya 1 kesempatan “ujian murni” yaitu di jalur tertulis. Dan apa yang paling buruk? Sistem ini baru disosialisasikan tahun ini.

Saya suka mencoba hal baru, orang-orang baru, tempat baru, suasana baru, tapi tidak dengan sistem. Ini bukan pertama kalinya saya kecewa dengan sistem pendidikan negara, saya pernah merasa dirugikan dengan sistem baru saat masuknya pelajaran Bahasa Jawa di kurikulum SMA. Tapi itu tidak seberapa jika dibandingkan adik saya. Dia pernah saat gagal masuk SMA favorit karena memakai sistem baru, yaitu tes bahasa inggris, tes matematika, dan wawancara, tidak seperti zaman saya yang hanya memakai nilai UAN. Perdebatan akan selesai jika statement “peningkatan kualitas pendidikan” diajukan. Tapi apa mendadak seperti itu? Apa tidak butuh sosialisasi barang 2-3 tahun sebelumnya agar si murid bisa menyiapkan segala sesuatunya? Tidak berlebihan bukan jika mereka, yang menjadi angkatan pertama sistem baru ini, saya sebut “tumbal”?

Saya yakin kalau banyak anak yang bermimpi masuk ke perguruan tinggi favorit, ITB misalnya. Dan saya yakin mereka sudah memupuk mimpi itu dari awal SMA, sehingga melakukan “apa yang seharusnya mereka lakukan” dari awal, seperti mempelajari tipe soal masuk, tes gambar, dan masuk ke jurusan SMA yang tepat. Seperti yang dilakukan Bina pada kisah di atas.

Saya tidak tahu kalau ada orang yang begitu kuat memegang mimpinya, jauh-jauh dari rumah untuk mengikuti bimbingan belajar seni rupa, pergi ke Bandung untuk melakukan tes yang semestinya bisa dilakukan di sebelah SMAnya, bahkan sudah mencanangkan untuk ikut andil dalam event sebesar Pasar Seni ITB. Saya yakin masih banyak Bina-Bina lain yang melakukan hal serupa, bahkan mungkin dengan pengorbanan yang lebih besar.

Tetap semangatlah adik-adikku! Banyak jalan menuju kesuksesan. Tidak ada yang salah dengan kegagalan, yang salah adalah kalau kita berhenti bermimpi. Banggalah karena kalian sudah berani bertarung, tidak sedikit teman-teman kalian yang memilih menyerah dan memilih “jurusan yang aman” agar bisa masuk PTN. Semuanya akan berakhir happy ending, jika belum itu menandakan cerita belum berakhir, itu prinsip yang selalu saya pegang. Memang tidak mudah menerima “pepatah-pepatah usang” ini langsung begitu saja. Namun percayalah, suatu saat kalian akan menyadarinya. God works in mysterious ways.

*****

Ambillah beberapa orang teman terdekat saya, tanyakan kepada mereka, apa yang saya benci,  beri mereka 3 kesempatan, niscaya salah satu jawaban mereka adalah saya tidak suka hal mendadak. Beberapa ajakan sering saya tolak karena waktunya mendadak, atau paling tidak saya ikut setelah puas mulut ini menggerutu ke mereka. Terlebih untuk hal-hal penting yang menyangkut masa depan, seperti di atas.