Wisuda ITB selalu memiliki warna sendiri di setiap episodenya. Selain prosesi arak-arakan yang menuntut kreativitas baru dari setiap himpunan, masih ada lagi drama berbeda di setiap edisi. Mulai dari rute arak-arakan, birokrasi yang menyulitkan, atau tingginya arogansi himpunan jika sudah berada di lapangan. Namun warna yang sama selalu saya rasakan pada H-1 sebelum arak-arakan, sebuah prosesi lain yang bernama malam syukwis.

Ya, suasana kehilangan dan keakraban menjadi warna yang selalu muncul. Ironisnya, keduanya kerap muncul berbarengan.

Saya selalu membayangkan, bagaimana jika saya berada di posisi mereka? Bagaimana jika saya sudah lulus dan kami terpisahkan oleh jarak? Bagaimana saat kami mendadak menjadi musuh yang membuat saya kehilangan sosok teman-teman lama? Bagaimana kami harus saling ‘bunuh’ nanti jika biasanya kami bermain pingpong di satu meja? Bagaimana kami akan mengatakan pada junior kami nanti jika ternyata kekeluargaan yang begitu diagungkan di himpunan menjadi barang usang di luar sana?

Atau jika saya berada di posisi orang yang belum lulus? Bagaimana jika saya menjadi orang terakhir yang lulus di angkatan? Bagaimana jika komunikasi kami putus karena salah seorang sungkan terhadap kawan lain? Bagaimana kekeluargaan yang kami buktikan dengan butiran keringat, ternyata seketika menguap saat berhadapan dengan kata ‘April’, ’Juli’, dan ‘Oktober’?

Saya tidak mau kehilangan teman-teman, setidaknya tidak secepat ini. Rasanya baru kemarin meneriakkan ‘dua ribu delapan!’ di Sabuga dan sekarang saya sudah mahasiswa tingkat akhir. Masih banyak yang belum saya dapat di kampus. Namun, saya adalah pembohong jika mengatakan tidak mau lulus Oktober 2012.

####

Tadi pagi dapat telepon yang tidak biasa dari Bapak, yang mendorong saya menulis ini, yang intinya seperti berikut:

“Bapak cuma mengingatkan ya Nak. Bapak lihat Rean sibuk banget sampe ga pulang ke rumah. Bapak cuma pengen ngomong jangan lupain kuliah, kamu ke ITB kan tujuan utamanya buat belajar. Cari pengalaman boleh aja, tapi jangan lupa kuliahnya. Bapak cuman ngingetin ya ini Nak.. Emang Rean ga pulang kenapa? ‘Acara bola’ nya ga bakal ganggu kuliah kan?”

Dua buah pertanyaan yang hanya bisa saya jawab pendek dengan kata “proposal” dan “Insya Allah gak Pak”…

Ya Allah, semoga saya bisa lulus Oktober 2012, semoga IP saya sesuai target, Bapak sampai ngomong “cuma ngingetin” sampai dua kali, itu tandanya beliau serius tapi gak mau terlihat panik oleh anaknya ini. ..

 

Seorang bijak pernah mengatakan, salah satu cara agar keinginanmu tercapai, ceritakanlah kepada orang banyak. Agar mereka bisa mengingatkan saat dirimu keluar jalur.