Tanah airku tidak kulupakan

Kan kukenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan engkau kubanggakan

Siang ini dapat kiriman SMS berupa lirik lagu ini dari seorang kawan. Niatnya pasti karena pas hari kemerdekaan, namun berakibat lain bagi saya. Lirik yang memancing ingatan usang saat masih SD dulu…

##

Saat SD dulu, ujian kesenian dilakukan dengan bernyanyi di depan kelas. Hal itu adalah hiburan bagi para guru setelah berhari-hari lelah memeriksa kertas ujian tertulis dengan tulisan amburadul kami, namun menjadi momok bagi kami karena menyanyi sama saja dengan mempertontonkan suara cempreng kami yang hanya dilatih saat upacara bendera.

Akhirnya tibalah hari itu, saya lupa saat kelas berapa karena setiap cawu ujiannya selalu menyanyi, hari dimana semua wajah teman sekelas menjadi mendung menahan gugup. Satu per satu nama dipanggil. Materi ujian kali ini adalah menyanyikan dua buah lagu yaitu lagu kemerdekaan dan lagu bebas. Pertunjukan dibuka dengan seorang kawan menangis karena tidak hapal lagu Indonesia Raya yang dia nyanyikan. Apa boleh buat, mental anak SD memang kadang senista itu. Saya pun dulu pernah nangis di kelas waktu nilai matematika dapat nol hahaha.

Kembali ke pertunjukan suara cempreng, satu per satu nama dipanggil, mendadak menjadi tidak menarik karena pilihan lagu hanya itu-itu saja. Dan akhirnya tibalah nama indah itu dipanggil, dan saya maju ke depan antara mantap dan tidak mantap. Mantap karena sudah memilih lagu, namun tidak mantap untuk suara. Pilihan lagu pertama bukan berdasar kesukaan, namun pada pendeknya lirik lagu, yaitu Padamu Negeri hahaha. Selesai lagu singkat empat kalimat itu, pilihan lagu kedua saya adalah Tanah Airku di atas. Selain karena enak didengar, lirik lagu itu menyimpan kerinduan mendalam saya pada kampung halaman di Jawa. Bagi pembaca setia sudah tahu seharusnya, SD saya berada di ujung timur Indonesia sana di Jayapura. Jarak dan biaya adalah kendala kami. Dari enam tahun disana, hanya sekali kami sempat pulang kampung saat lebaran. Saat kakek meninggal pun, suara tangis ibu hanya bisa didengar lewat telepon, dan juga hanya bisa dibalas dengan tangisan keluarga besar dari telepon di seberang sana, tidak ada tepukan di pundak, tidak ada pelukan.

Setelah selesai menyanyikan lagu itu, tepuk tangan seadanya diberikan teman-teman, sama seperti 20an tepukan tangan sebelumnya. Tepukan tangan yang ingin mengatakan “Cepatlah selesai ujian ini”. Sama seperti pikiran saya, “Cepatlah selesai ujian ini agar saya bisa pulang dan bermain bola”. Lalu nama indah kedua dipanggil, ya sebuah pemilik nama yang pernah saya ceritakan sebelumnya di blog ini. Seorang anak perempuan yang saya kagumi kecantikannya saat itu.🙂

Pilihan lagu pertamanya biasa saja, lagu kemerdekaan yang memang sedikit pilihan itu. Tepuk tangan belum terdengar, saya merasa semakin cepat ingin bermain bola. Dan sampailah pada momen itu, ketika dia menyanyikan lagu kedua, Ambilkan Bulan Bu. Momen ketika seluruh kelas sunyi, ketika mata saya tidak berkedip, ketika bulu kuduk saya merinding. Dari awal sampai akhir lagu itu, dunia seakan sunyi senyap meninggalkan kami berdua, hanya kami berdua, dia bernyanyi dan saya terbius oleh suaranya, satu menit terbaik hari itu, melupakan saya tentang sepakbola sepulang sekolah. Dan dunia kembali menghampiri kami saat lagu itu selesai, ditandai dengan tepuk tangan meriah teman-teman sekelas. Saya ingin bertepuk tangan tapi malu kalau dilihat dia hahaha.

##

Dan saya sadar, betapa suara nyanyian bisa membius saya, apalagi kalau cewek, sampai sekarang pun hehe. Ya, seperti sebait lirik lagu yang dinyanyikan indah oleh seseorang dan tidak sengaja terdengar oleh telinga ini beberapa minggu yang lalu…🙂