Seorang kawan pernah menceritakan pengalaman masa lalunya yang suram. Akademik jadi mainan, berkelahi bukan aib baginya, dan otomatis agama pasti ditinggalkan. Sebuah hal yang aneh melihat gaya kepemimpinannya sekarang yang nyaris tanpa emosi, hal yang bertolak belakang dengan masa lalunya, sesuatu yang saya kritik langsung di depan batang hidungnya. Dia menceritakan semuanya, sampai pada alasannya menjadi orang yang seperti sekarang. Sebuah alasan sederhana yang dilakukannya demi seseorang, bukan untuk dirinya. Sebuah alasan yang salah terhampar di depan saya. Karena semua perubahan yang kita lakukan adalah untuk diri sendiri, seperti yang diajarkan bapak kepada saya.

Seorang yang lain pernah bercerita alasan dia memilih sebuah jurusan karena orang tuanya. Memang itu terdengar baik, apa sih yang melebihi dari kepuasan melihat senyum orang tua kita. Tapi itu salah bagi saya. Kalau memang berminat di bidang lain, dan dari sana juga dapat mencetak kebanggaan, kenapa tidak dilakukan? Masuk ke bidang tertentu berarti membiarkan diri kita untuk mengalami perubahan, dan sekali lagi alasan perubahan dilakukan haruslah untuk diri sendiri.

Saya sudah sering mendengar kisah-kisah yang sama, berubah untuk orang lain. Semakin kesini saya sadar kalau perubahan memang harus diniatkan untuk kebaikan diri sendiri. Tapi sekarang saya sedang tidak ingin melakukannya. Menyedihkan memang, saya sudah menulis panjang tapi malah langsung membantahnya. Saya sedang tidak ingin menjadi seperti daun di musim gugur, mereka yang mengubah warna daunnya sebagai solusi berkurangnya pasokan air, mereka berubah untuk kebaikan diri sendiri, sedangkan orang lain melihat mereka sedang memamerkan keindahan warnanya. Saya sedang ingin membantah teori saya sendiri.

Halo kamu yang disana, yang mungkin sehari-hari pun tidak pernah menyadari kehadiran saya, kalau alasan saya untuk menjadi orang yang berbeda, menjadi orang yang lebih baik, adalah untuk dirimu, bolehkah? Jika saya melakukan alasan yang salah, untuk dirimu, bolehkah?