Semalam mungkin menjadi episode shalat tarawih paling menyenangkan selama Ramadhan tahun ini. Sederhana saja, saya kembali shalat di masjid tempat biasa shalat tarawih saat “masa-masa sulit” di awal kehidupan di Semarang dulu. Masjid ini terletak di kompleks Srondol Bumi Indah, tempat tinggal saya dulu. Saat ini sudah mengalami perluasan shaf di bagian belakang, sepertinya untuk jamaah shalat Jum’at yang sering membludak.

Sedikit cerita soal “masa-masa sulit” yang dimaksud. Saya pindah ke Semarang pada 2002, pertengahan kelas 2 SMP. Sedikit informasi, 1-2 tahun pertama di kota ini bukanlah periode yang menyenangkan bagi saya.

Gegar budaya, jika tidak terlalu berlebihan, terasa menerpa meskipun seharusnya saya berada di “rumah” di tanah Jawa. Percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa, di saat saya belum terlalu pede ngomong Jowo di depan umum. Kondisi sekolah tidaklah lebih baik. Menjadi anak baru adalah sebuah pengalaman buruk, meskipun tercatat saya pernah bersekolah di dua SD dan tiga SMP. Memulai lagi “karier akademik” dari nol tidak mudah dilakukan, apalagi setelah merasakan kenyamanan yang luar biasa di sekolah awal.

Dari kondisi lingkungan juga memperparah. Saya yang awalnya memiliki kawan-kawan dengan status yang “hampir mirip”, dihadapkan dengan keheterogenan di sekolah baru. Bagus memang karena cepat atau lambat saya harus menerima yang namanya perbedaan, namun tidak se-drastis ini.

Kondisi kota juga sama saja. Semarang terasa cepat, kotor, panas, dan membingungkan bagi saya, tidak seperti Balikpapan yang kecil, asri, dan nyaman untuk ditinggali. Kita bisa menikmati jalanan kota dengan pemandangan pantai saat sore hari, sedangkan jalanan Semarang malah macet saat pulang-pergi kerja.

Tapi sekarang, saya malah mendapat manfaat dari semua masa sulit itu. Pertama, soal budaya. Saya yang sekarang merantau ke Bandung merasakan gegar budaya yang lebih hebat daripada sebelumnya. ITB menghadirkan Indonesia mini di dalam kampus, semua budaya tidak sungkan untuk berbagi, keunikan masing-masing diperlihatkan, kami menyadari keanekaragaman kami, dan kami menerimanya sebagai kekayaan nusantara.

Kedua, soal keheterogenan. Semakin lama saya sadar bahwa sama tidak selamanya menyenangkan. Dan kemampuan untuk adaptasi di lingkungan baru menjadi hal yang diperlukan, namun tetaplah menjadi diri sendiri. Saya berusaha menjadi orang yang berbeda, yang memiliki ciri khas. Dan jangan salah jika saya sering mencibir kawan yang sering ikut-ikut, yang tidak memiliki karakter, yang meneriakkan kekecewaan di belakang namun mendadak mem-beo saat di depan.

Ketiga, soal semrawutnya kota. Kondisi jalanan Bandung jauh lebih parah dibandingkan Semarang. Tidak hanya jam kerja, macet ditemukan hampir sepanjang waktu, diperparah lagi dengan kelakuan sopir angkotnya. Di kondisi ini saya menemukan hal menyenangkan yang menjadi hobi baru, yaitu berjalan kaki. Berjalan kaki bukan hanya menjadi pelarian dari lelahnya kemacetan, tapi juga menjadi solusi sederhana saat saya mengalami stress. Terdengar tidak berhubungan memang, namun berjalan sejauh mungkin dapat memberi ketenangan saat penuh beban pikiran ini.

Kalo kata bapak, manusia jadi cepat dewasa saat diberi banyak kesulitan dan hal-hal baru. Syukurlah saya masih diberi kesulitan, entah sudah menjadi dewasa atau tidak, tapi setidaknya saya bisa menarik pelajaran dari “masa-masa sulit” dulu…

Cukup sekian. Jarang-jarang ngepost sekalinya langsung nyerocos banyak hahaha.