Sudah sejak lama saya memikirkan ini, yaitu fakta bahwa pada suatu titik seorang pria dituntut untuk memilih antara dua hal yang berseberangan, yaitu keluarga atau pekerjaan. Bahkan bapak yang saya anggap berhasil menyeimbangkan dua hal di atas, karena sudah 4 tahun bolak-balik Jakarta-Semarang setiap akhir pekan untuk bertemu keluarga, ternyata masih ‘bocor’ karena sering terlihat sibuk mengetik Blackberry-nya di tengah obrolan meja makan, gampang ditebak itu urusan kantor.

Saya mulai menyadari ‘ada’ pilihan ini sejak ikut panitia PROKM dulu. Sejak itulah orangtua mulai rajin menanyakan alasan saya yang hanya sebentar pulang hampir di setiap liburan semester. Di Juli 2009 ikut PROKM, Januari 2010 ada kaderisasi himpunan, Juli 2010 saya liburan bareng temen ke Malang dan ikut ngurus wisuda Juli, Januari 2011 ikut Olimpiade ITB, yang terakhir Juli 2011 ngurus proposal GFL, dan catatan kejahatan saya pun akan bertambah karena Januari besok GFL (Insya Allah) udah main.

Mungkin orang yang paling menjadi korban adalah bapak. Sering beliau saya ‘layani’ seadanya saat sedang dinas ke Bandung. Penyebabnya tidak cuma tugas kuliah, namun juga kegiatan himpunan. Bisa dikatakan saat bapak dinas ke Bandung merupakan penanda saya sedang dalam ujian keluarga atau pekerjaan ini. Keadaan semakin rumit karena kakak dan adik saya secara bersamaan kuliah di Bandung mulai semester ini. Otomatis waktu saya juga harus disediakan untuk mereka, di tengah urusan di kampus yang terasa selalu ada saja. Mungkin Allah mau lebih mendekatkan saya dengan keluarga tanpa harus jauh-jauh berpindah tempat ke rumah, yaitu dengan cara membawa kakak dan adik ke Bandung🙂

 

Saat memikirkan hal ini saya lalu melihat sebuah keluarga kecil, yaitu bapak, ibu, dan seorang anak mereka yang masih bayi. Si anak menangis di pelukan ibunya karena terbangun di tengah malam, sedangkan si bapak hanya duduk di meja kerjanya, sambil memelototi laptop. Saya membayangkan pria ini, yang membawa pekerjannya ke rumah, yang pesan di ponselnya tidak berhenti berdatangan, yang bahkan tidak mampu untuk sekedar menghampiri anaknya yang sedang menangis, adalah saya. Sebuah mimpi buruk. Semoga saya tidak menjadi pria seperti itu.