Hujan rintik menerpa ibukota sore itu. Seorang lelaki berpayung tampak terburu-buru berjalan, ingin sesegera mungkin sampai di kamarnya. Selain karena hidungnya memang tidak bersahabat dengan udara dingin, lalu apalagi yang akan diperbuatnya setelah pulang kerja selain berisitirahat. Sekarang dia memasuki kawasan pasar, langkahnya diperlambat karena menghindari jalanan yang becek. Dia berhenti sejenak, menyapa penjual buah di samping kirinya. Ada sedikit basa-basi disana,

“Payungnya bagus pak”, kata si penjual. Lelaki itu melihat payung hijaunya, diam sebentar, dua detik kemudian dia berkata,

“Ibu mau?”, dan dibalas dengan anggukan mantap dari si penjual. Tanpa pikir panjang, dilipatnya payung itu dan ditinggalkan di depan gerobak buah, payung yang sebenarnya masih terhitung baru bagi si pemilik.

“Saya taruh disini ya bu”, sebuah adegan 10 detik yang seharusnya cukup mengharukan, yang seharusnya bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri andaikan berada di waktu dan tempat yang tepat, yang seharusnya bisa berlangsung lebih lama andaikan lelaki itu mendengar ucapan terima kasih dari si penjual. Sayang sekali dia langsung berlari pulang, selain karena udara yang semakin dingin, dia juga mengkhawatirkan penyakit sinusitis-nya. Langit Jakarta tersenyum, karena hujan yang diturunkannya telah menghasilkan satu perbuatan baik…

##

Lelaki di atas adalah bapak saya, seorang pria pendiam yang menyimpan banyak kejutan. Hal-hal sederhana dari beliau kadang membuat saya harus terdiam. Memberi perhatian dengan sederhana, mencintai dengan sederhana, termasuk kepada kami, anak-anaknya. Sebuah suri tauladan baik yang coba saya lakukan sehari-hari.

Pertanyaan yang menarik, bagaimana rasanya jika dirimu tidak bisa menolong saat dibutuhkan?

Saya pernah merasakannya, saat melihat kekalahan tim basket himpunan. Saya jelas kecewa, tapi apa yang bisa saya lakukan, main basket saja tidak bisa. Dan saya coba menerapkan “memberi sederhana” ini. Saya jabat tangan para pemain, memuji permainan mereka, menghibur mereka, dan tidak lupa untuk tersenyum. Hasilnya tidaklah buruk, karena jabatan tangan saya dibalas dengan genggaman erat.

Begitu banyak kemurungan terjadi akhir-akhir ini di sekitar saya. Dan seperti pertanyaan di atas, saya tidak mempunyai peran besar untuk membantu disini. Prinsip “memberi sederhana” coba saya terapkan, teman-teman yang terkena masalah coba saya ajak ngobrol, saya ucapkan kata-kata penyemangat, atau yang paling sederhana seperti tepukan di pundak.

##

Disini saya hanya menerapkan apa yang diajarkan bapak, tidak ada maksud lain, selain karena memang harus ada senyuman untuk menembus kabut kemurungan ini. Tidak menyelesaikan masalah memang, namun memberi kepercayaan diri kalau saya berdiri di belakang mereka. Jangan heran kalau melihat banyak tepukan pundak dan kepalan tangan penanda semangat yang saya berikan. Sekali lagi, saya hanya melakukan apa yang bapak ajarkan, bapak nomor satu seluruh dunia…