gambar : goodreads.com

Cerita dibuka dengan penulis yang melihat Tajikistan di seberang Sungai Amu Darya, dia melihat betapa berbedanya negeri sebelah, jalanan mulus, banyak kendaraan lewat, padahal sekarang dia sedang terengah-engah bersama keledai, menuruni tebing yang curam, kadang sampai hampir jatuh ke jurang, di negara penuh konflik bernama Afghanistan. Sungai itu telah menjadi satu garis batas di Asia Tengah, dimana sebelumnya merupakan satu area luas yang begitu ditakuti dunia, bernama Uni Soviet. Lihatlah sekarang, tempat ini menjadi kawasan yang membingungkan karena banyak negara berakhiran Stan, buku ini menceritakan pengalaman penulis melewati berbagai garis batas baru, kebudayaan baru, dan mengeksplorasi nama-nama asing bagi kita seperti Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Agustinus Wibowo menunjukkan inilah yang dicari dari perjalanan ke tempat asing, kesemrawutan birokrasi, kelaparan dan kedinginan karena tidak ada uang, melihat dari dekat wajah sebenarnya dari sebuah negara sampai ke pedalamannya, dia mendapatkan semua yang memang seharusnya didapat oleh seorang backpacker. Buku ini merupakan catatan pribadinya sebagai seorang petualang, tidak mencari seperti yang ada di brosur, tapi benar-benar hidup bersama masyarakatnya, makan, berbicara, dan berpikir seperti orang-orang di sekitarnya.

Dengan gaya bahasa penuturan yang tidak biasa, dipadu dengan penggambaran eksotisme campuran Rusia-Persia, tidak ragu saya memberi angka 4.5 skala 5 untuk Garis Batas. Statistik di Goodreads juga enak dilihat, mendapat poin 4.41. Merupakan kisah backpacker kedua yang saya baca setelah The Naked Traveler, namun Garis Batas terlihat lebih ‘keras’ karena negara yang dikunjungi juga tidak santai.

Oh iya, terimakasih untuk Mas Yunus Kuntawi Aji yang meminjamkan novel ini. Siapa dia? Silakan lihat di blognya. Jadi beliau memiliki program #lendabook, dimana dia menawarkan meminjamkan buku, dan akan dikirim ke alamat peminjam. Dan maksimal sebulan setelahnya, buku gantian dikirim untuk dikembalikan ke pemiliknya. Sebuah cara baru dan bagus untuk menaikkan nilai guna sebuah buku daripada hanya teronggok berdebu di sudut rak. Ada yang berminat?🙂