Tanpa disadari, hampir semua yang kita lakukan hanyalah mengulangi apa yang dilakukan orang lain. Di waktu setua ini, tinggal sedikit ruang tersisa untuk ditemukannya hal baru.

Ambil contoh termudah, yaitu diri saya dalam tenis meja. Gaya memegang bet yang seperti orang berjabat tangan adalah dari paman saya. Warna merah bet selalu saya berikan untuk pukulan forehand karena meniru sepupu saya. Gaya pukulan forehand yang sejatinya adalah style tenis karena ‘mengayun dari bawah’ adalah ajaran bapak, orang yang sangat mendorong saya untuk belajar tenis. Dan terakhir, pukulan slice backhand saya dapatkan saat melihat pukulan slice salah seorang kawan sebelumnya.

Masih banyak hal lain yang tidak original saya lakukan. Misalnya saat menyetir, menulis tangan, bermain catur, dan bisa saja semuanya tidak pernah murni berasal dari diri saya. Bahkan bisa saja ratusan tulisan saya sebelumnya merupakan ide curian yang saya tuang kembali dengan gaya bahasa berbeda, bisa saja. Dari tenis meja saja saya sudah melibatkan empat orang berbeda di dalamnya. Bisa dipastikan masih ada barisan panjang nama orang lain yang turut peran dalam apa yang saya lakukan selama ini.

Ratusan orang singgah dan pergi dari hidupmu, dan dirimu tidak akan pernah lagi sama dengan dirimu sebelumnya – 5 cm

##

Saya tahu kalau menyapa dan mengatakan ‘hai’ padanya hanyalah akan mengulang dari apa yang orang lain lakukan. Status sapaan saya hanyalah ‘sapaan kesekian yang pernah dia terima’. Tapi kenapa tidak mudah melakukannya? Kenapa sulit sekali mengatakan apa yang ratusan orang lain katakan padanya sebelumnya? Kenapa terasa menyulitkan memanggilnya di saat namanya bersliweran diucapkan orang-orang? Ini tidak sesederhana tenis meja yang sering saya mainkan, ini adalah masalah serius beratasnamakan urusan hati… 🙂