Pada post terdahulu saya pernah mengulas tentang peluang Indonesia di kualifikasi babak tiga Piala Dunia 2014 lengkap dengan peta kekuatan setiap tim di grup 4. Tulisan ini akan mengulas keadaan timnas setelah melalui tiga pertandingan awal grup..

Sebagaimana yang ditakutkan, Indonesia menjadi juru kunci sementara di grup ini. Tiga pertandingan awal dilalui dengan kekalahan, kemasukan 8 gol dan hanya memasukkan 2 gol. Pada kesimpulan post sebelumnya, saya mengatakan Indonesia bisa saja lolos asalkan memanfaatkan penuh dua partai kandang dan mencuri 2 poin di partai tandang. Kenyataannya? Dua partai kandang awal dipermalukan oleh Bahrain dan Qatar. Tiga partai selanjutnya lebih berat ketimbang tiga partai awal, karena hanya akan bermain sekali di Jakarta dan itupun melawan Iran. Apa yang harus dilakukan Indonesia sekarang?

Banyak yang sudah menebak peluang Indonesia memang berat untuk lolos, namun tidak secepat ini, tidak seperti ini. Mungkin statement pengamat sepakbola Anton Sanjoyo beberapa hari setelah kekalahan atas Bahrain harus dicermati. Intinya, pemain timnas memang tidak sanggup bermain bola di atas 60 menit karena kekurangan VO2 max. Buktinya? Saat menang 4-3 atas Turkmenistan. Mengapa? Karena tidak dibiasakan untuk kompetisi ketat sejak kecil. Solusinya? Dibuatlah kompetisi sepakbola bertingkat, dari U-12 misalnya. Sebenarnya solusi yang sudah dikatakan berbusa-busa oleh puluhan orang lain tapi tidak kunjung juga dilakukan.

Bisa dilihat kemarin kalau 10 menit awal babak kedua permainan kita sudah bagus, sampai pada gol ketiga Qatar pada menit ke-59. Setelah itu permainan menurun, tidak terlihat lagi umpan-umpan pendek cepat ala Indonesia, karena mental atau fisik? Bisa keduanya, dan solusi terbaik tetaplah dibuat kompetisi berjenjang, agar pemain terbiasa bermain penuh 90 menit dalam tekanan. Kembali ke kualifikasi Piala Dunia 2014, apa yang harus dilakukan Indonesia di tiga partai sisa?

Jangankan tiga partai sisa, bung Anton mengatakan jangan ngurusin prestasi dulu 10 tahun ke depan. Perbaiki sistem kompetisi, tingkatkan VO2 max pemain sampai 60, 10 tahun lagi kita kembali sebagai ‘the new Indonesia’. Terdengar lebih baik dari sekedar mengganti pelatih atau ketua PSSI bukan?

Terbanglah makin tinggi Garuda!!