Suatu siang, di sekitar himpunan…

“Aku itu orangnya perfeksionis Re”, dia membuka percakapan baru.

Aku juga perfeksionis, tidak banyak resiko yang pernah kuambil, pikir saya.

“Aku maunya semua terencana, terstruktur, dan harus jadi. Dan aku pernah punya temen yang berani bermimpi, dari sana kita bisa jalan bareng, sebagai tim. Itu yang pernah kulakuin”, tambahnya.

Jadi harus ada sosok ‘si pemimpi’ dalam tim? Itu yang dia maksud? Saya menerawang, membayangkan nama demi nama anggota tim yang lain.

Si pemimpi bertugas memikirkan hal-hal spektakuler dan si perfeksionis menjadi pengawasnya? Si pemimpi melihat langit bisa dicapai, si perfeksionis mengingatkan kalau langit juga ada batasnya. Begitukah?

“Kamu jangan takut Re, aku pernah ngalamin kayak di posisimu juga”, dia mengambil rokok, menghisapnya, menunggu 2-3 detik agar asap itu sempurna menghancurkan paru-parunya, lalu mengeluarkannya penuh nikmat, dan dia kembali berbicara,

“Kamu harus ngerasa sebagai ujung tombak. Mungkin kerasa berat, tapi bisa kerasa membanggakan kalo dipikir sisi positifnya, kamu adalah cerminan timmu di mata orang”,

Sekarang apa yang dia omongin? Soal ujung tombak? Soal orang pertama ya?

“Kamu itu ujung tombak, harus yang paling semangat”.

Oh, dia mau ngasih semangat ternyata. Saya membenarkan posisi duduk, asap rokoknya dan panas matahari cukup menganggu percakapan. Untung himpunan sepi, kalo tidak, bisa penuh asap rokok sudut kanopi ini.

“Aku dulu pernah kayak kamu Re, jadi ujung tombak. Aku pernah bolak-balik Bandung-Jakarta demi kerjaan, sempet gak mampir rumah malah pas di Jakarta. Tapi ya itu, aku ngerasa sebagai ujung tombak, semua kerasa lewat begitu aja, dan aku juga mencintai pekerjaanku”.

Mencintai pekerjaan! Itu yang lama hilang. Bukankah itu yang Bapak maksud dalam perkataan “Lakukan semua untuk dirimu sendiri, jangan buat orang lain, jangan juga buat bapak”? Bukankah itu yang saya lakukan pada tahun kedua saat gagal masuk jurusan pilihan pertama? Waktu itu saya belajar keras, dan alhamdulillah nilai saya naik, itu juga wujud mencintai pekerjaan kan?

Kemana semua itu? Kenapa saya sering mengeluh sekarang?

##

Semangat itu berjalan berlawanan arah dengan waktu, makin lama makin tergerus. Tidak ada yang salah. Masalahnya, gimana cara menaikkannya lagi? Dengan mencintai yang dilakukan, itu jawabannya. Kerjaan kami satu tim memang sedikit amburadul sejak ada ‘masalah itu’, namun semua terlihat kembali ke trek yang benar seminggu terakhir ini. Saat saya mencoba mencintai ‘lagi’ pekerjaan saya…