Mendengar kabar kegagalan adik masuk ke ITB melalui ujian SNMPTN jalur undangan mungkin menjadi salah satu saat-saat terburuk yang pernah saya alami. Malam itu juga, sedikit percakapan semangat saya berikan dari seberang telepon untuk ibu dan adik di rumah. Suasana rumah sedang muram. Selang beberapa minggu kemudian, saya mengetahui kalau ternyata bapak juga sedang di Semarang saat itu, mengambil cuti khusus untuk menerima kabar kelulusan ITB bersama adik di rumah. Malam itu, bapak berbicara empat mata dengan adik di kamar, menanyakan bagaimana rencana selanjutnya. Disana keluar pernyataan kalau adik ingin mencoret ITB dari tujuannya saat SNMPTN jalur tertulis nanti. Bisa dibayangkan betapa sedihnya bapak saat itu, beliau akan pulang ke Jakarta esok hari dengan membawa kabar anaknya tidak akan kuliah di ITB. Setelah menyampaikan sedikit kata motivasi, bapak keluar kamar, menutup pintu sambil menunduk. Beliau perlahan menuruni tangga, sambil diam-diam mengelap air mata dengan kerah bajunya. Bapak menangis. Andai saja bapak melihat adik yang sedang mengintip dari balik pintu, mungkin beliau akan cepat-cepat berlalu agar tidak terlihat. Seperti beliau yang lama berada di kamar mandi saat mendengar berita wafatnya nenek 9 tahun silam.

##

Ada dua cara merayakan keberhasilan dan kegagalan, pertama dengan mengabarkan kepada orang lain, yang kedua adalah dengan tidak merayakannya. Tidak banyak keberhasilan yang mau bapak umbar ke orang lain, tapi tidak dengan hal ini. Setelah sekian lama, saya baru tahu ternyata banyak teman-teman kantor bapak yang tahu tentang prestasi akademik saya, dari SD sampai ke ITB ini. Beliau yang biasanya hanya memberikan pelukan beberapa detik, ternyata begitu bangga dengan anak-anaknya. Beliau juga siap dengan solusi terhadap kegagalan. Kegagalan saya masuk teknik perminyakan beliau sikapi dengan menanyakan ke banyak teman-teman kantornya, di berbagai posisi dan dari berbagai jurusan, tentang prospek lulusan teknik geofisika. Lalu beliau ‘melaporkan’ hasilnya sebagai penambal rasa sedih saya. Tidak diperlihatkannya nada kecewa, yang diucapkan beliau adalah motivasi dan nada bangga.

##

Bapak memang menjadi orang yang berbeda jika berurusan dengan pendidikan. Saya ingat betul bagaimana cerewetnya beliau kalau saya tidak terlihat belajar saat ujian di kelas 3 SMP dulu. Bagaimana kerasnya bapak saat ‘memaksa’ adik menghapalkan perkalian dulu. Atau bagaimana sabarnya bapak saat melihat buku tulis saya saat SD dulu, mengecek pekerjaan rumah saya, hampir setiap hari, demi memastikan anaknya ini memahami pelajaran.

Bapak yang sudah menjadi anak yatim sejak kecil pasti tahu betul betapa sulitnya menikmati pendidikan. Mencari uang jajan dengan cara bermain kelereng lalu menjual hasil kemenangannya sewaktu SD, hanya mengandalkan kiriman uang yang tidak teratur sewaktu kuliah, sampai pada mengambil S1 dan D1 sekaligus agar gelar D1 nya bisa digunakan untuk mencari uang, dan akhirnya bapak kuliah S1 sembari menjadi guru SMA.

Pendidikan telah mengasah bapak menjadi orang yang kuat, tidak mudah menyerah, dan bertanggung jawab penuh. Seperti yang beliau ajarkan pada anak-anaknya…

Oh iya, tulisan ini saya buat untuk bapak yang berulang tahun kemarin, selamat ulang tahun ya pak, semoga diberi kelancaran dalam semua hal.. kayaknya cuma itu ya yang aku ucapin di telepon kemarin, ngomong-ngomong kita emang ga banyak bicara ya pak kalo lewat telepon?