Nama Rhenald Kasali tentu tidak asing bagi sebagian besar orang. Berlatar belakang ekonomi, beliau menjadi pakar bisnis yang berpengaruh di Indonesia, jauh sebelum diangkat menjadi guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 2009. “Otak manusia seperti parasut, ia baru bekerja kalau terbuka”, adalah statementnya yang menjelaskan alasan kenapa ia banyak mengundang orang luar untuk menjadi pengajar di program pimpinannya, seperti alasan kenapa dia banyak keluar untuk menjadi pengajar di tempat lain. Dan satu kelebihan Rhenald Kasali, setidaknya bagi saya itu sebuah kelebihan dibanding orang lain, dia mau menulis.

Belasan buku sudah dibuatnya, ratusan tulisannya sudah tersebar di media massa. Tidak cukup dengan berbicara, pemikirannya diabadikan dengan kata-kata. Tulisannya cerdas, tepat sasaran namun sopan, dan memperlihatkan wawasan yang begitu luas. Tidak hanya soal ekonomi, topik hangat lain masih bisa diulasnya dengan baik. Bagi yang ingin membaca tulisan Rhenald Kasali bisa langsung masuk kesini. Baru beberapa tulisan yang saya baca, namun dari beberapa itu sudah berhasil memaksa saya untuk bertepuk tangan. Ya, bertepuk tangan dalam artian sebenarnya, mungkin kamar sebelah bingung kenapa subuh-subuh ada suara tepuk tangan padahal tidak ada pertandingan bola🙂

Jarang ada ‘orang-orang besar’ yang mau menulis, setahu saya baru Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Bambang Pamungkas dengan blog pribadi yang tulisannya rajin diupdate. Bila lebih disederhanakan, memang jarang orang yang mau menulis, meskipun di kehidupan nyata banyak omongnya minta ampun. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, penulis, entah itu blog, novel, atau media massa, entah itu kawan sekelas, anak ITB tapi bertatap muka pun tidak pernah, atau bahkan orang asing, mendapat tempat tersendiri bagi saya, apalagi kalau tulisannya bagus.

Makanya perhatian langsung saya berikan pada menteri BUMN Dahlan Iskan setelah membaca tulisan ‘Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?’ beberapa waktu yang lalu, dan perasaan saya campur aduk setelah menemukan kliping tulisan beliau disini. Patut ditunggu apakah masih ada tulisan dari Dahlan Iskan mengingat jabatannya kini bukan ‘hanya’ dirut PLN lagi. Semoga banyak tulisan ‘orang-orang besar’ lain yang saya temukan setelah ini. Karena seni menulis berbeda dengan berbicara, kumpulan huruf tidak mengenal intonasi namun harus membangkitkan emosi.

Jadi, sudahkah Anda menulis hari ini?