Pertanyaan menarik disampaikan kawan HMS pada kami: “Apa sih harapan untuk GFL (Ganesha Football League) nanti?”

Jawaban saya simple saja, saya berharap GFL 2012 dapat menjadi acara silaturahmi himpunan dalam suasana aman.

Oh iya, GFL 2012 adalah program kerja TERRA di kepengurusan 2011/2012 ini, Insya Allah dilangsungkan pada awal Januari tahun depan. Salah satu rangkaian pre-event GFL adalah roadshow ke himpunan dan disanalah percakapan di atas terjadi. Menjadi menarik karena seharusnya roadshow menjadi percakapan satu arah dimana kami menerima masukan, sedangkan yang dua arah lebih tepat ditempatkan pada technical meeting, yang akan dilakukan akhir bulan ini. Semakin menarik pula karena saya jarang mendapat pertanyaan itu, termasuk dari kawan TERRA sendiri.

Kembali ke jawaban saya, disana ada dua poin penting, yaitu ‘silaturami’ dan ‘aman’. Poin kedua yang menjadi momok setiap event antar himpunan merupakan salah satu materi roadshow kami. Insya Allah dengan aturan komdis yang sudah kami buat, yang nanti akan disempurnakan lagi dengan teman-teman massa himpunan saat technical meeting, dapat meminimalisir kemungkinan terburuk. Dengan catatan, aturan komdis itu ditaati dengan benar.

Poin pertama yang menarik dibahas, yaitu tentang silaturahmi. Mungkin terdengar sederhana, namun mimpi indah memang selalu memposisikan diri untuk sulit dikejar. Dalam seminggu ini, sudah dua himpunan yang menyatakan tidak akan ikut serta di GFL nanti. Seperlimabelas terlihat kecil, tapi bolehlah saya perfeksionis. Bagaimana mungkin tercipta acara silaturahmi akbar dengan tamu yang tidak lengkap?

Satu himpunan menyatakan perubahan kebijakan dari yang sebelumnya, satu himpunan lain tidak menyertakan alasan jelas. Saya bukan orang yang indah berkata-kata seperti calon ketua himpunan, saya juga belum menjadi orang yang memikirkan ‘apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah negara saya’, namun izinkan saya melakukan hal sederhana untuk kampus ini, yaitu silaturahmi di bidang olahraga.

Sampai detik ini saya masih belum siap kehilangan ‘tamu’, belum siap untuk hanya menulis 27 nama himpunan saat drawing nanti, hanya meminta 27 tanda tangan kahim saat perjanjian komdis nanti, atau sekedar hanya melihat 27 warna jaket himpunan saat upacara pembukaan nanti.

Setelah semua ini berakhir, setelah selesai di kampus gajah ini dan sudah waktunya saya mengabdi untuk masyarakat, masih bolehkah saya mengatakan : “Saya sudah berbuat sesuatu untuk ITB!”?