Awal semester genap, tahun ajaran 2009/2010. Saya kaget saat mendengar seorang kawan berencana mengambil cuti untuk menjalani pengobatan. Saya, dia, dan teman-teman berbicara malam itu, bersama ibunya juga, berdiskusi tentang kondisi akademik di semester 4. Berbicara tentang apa yang sulit, apa yang bisa diambil semester depan, apa yang ada praktikumnya, dan apa apa yang lain. Kesimpulan malam itu adalah akan ada beberapa mata kuliah yang diambil karena dinilai tidak memberatkan. Kesimpulan yang ternyata tidak jadi diambil di kemudian hari, karena dia berencana cuti untuk fokus pada pengobatannya. Keputusan yang sedikit mengecewakan saya.

Akhir semester ganjil, tahun ajaran 2010/2011. Saya menyesal telah kecewa saat itu, karena terbukti dia mampu mengejar ketertinggalannya. Saya menyesal tidak mempercayainya, menyesal lupa dengan semangat yang dia miliki. Padahal semangat besar telah dia tunjukkan setahun lalu, pada peristiwa yang mengakibatkan sakitnya.

##

Karangsambung 2011, mungkin menjadi fase dua minggu paling tidak menyenangkan tahun ini. Bagaimana tidak, gunung, bukit, jembatan rusak, sungai, kali dengan batu-batu besar, atau bahkan saat harus mencari rute jalan sendiri harus kami lewati, dengan alasan akademik dan profesionalitas, fisik kami benar-benar dihabisi. Itu masih kurang tidak menyenangkan dibandingkan saat mendengar rencana seorang teman untuk kembali cuti beberapa minggu kemudian.

Saya tidak tahu kalau ternyata dia sering merasa pusing hampir setiap malam di Karangsambung. Seingat saya dia baik-baik saja disana, melakukan apa yang juga saya lakukan, tanpa pernah ada keluhan. Ternyata kuliah lapangan itu membuatnya kembali harus menjalani pengobatan. Saya kembali teringat tentang semangatnya, dan saya berpikir mungkin hanya itulah senjatanya saat membabat jalanan panjang di Karangsambung.

##

Saya sempat terdiam beberapa saat setelah membaca pesan masuk, seperti diam yang saya tunjukkan saat terakhir kali menjenguknya pada bulan puasa kemarin. Isi pesannya adalah dia akan dioperasi di Singapura (lagi) karena sudah empat rumah sakit menyatakan tidak mampu mengobati. Saya tidak bisa membayangkan tubuh kurus yang tergolek lemah saat itu sudah berpindah kasur rumah sakit sampai sebegitu banyaknya.

Tetap semangat Wibi! Kamu udah pernah ngalahin dinginnya gunung, panasnya Karangsambung, sampai soal akademik. Jangan nyerah ya sama sakitnya, kamu udah pernah ngelewatin sakit yang sama sebelumnya kawan. Semoga semester depan udah kuliah lagi ya, udah ada banyak Wib yang bisa kamu tanyain setelah lama ditinggal🙂

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Yudoro Kunto Wibisono, teman yang sudah menunjukkan seperti apa itu semangat dan rasa keingintahuan besar. Selalu terekam pada ingatan, Wibi tidak pernah melepaskan carriernya ke orang lain, meskipun dirinya berpita merah, kalo inget ini kamu pasti bisa ngalahin sakitnya kan Wib?