Ada yang bilang, “Juara umum SEA Games bagi Indonesia tidaklah lengkap tanpa medali emas sepakbola”, pendapat yang tidak salah, tapi berikan saya kesempatan untuk membantah. Saya tidak sedang membual dengan janji manis seperti pemimpin yang menahan proposal penting, karena saya berada disana, saat final SEA Games 2011, di Stadion Gelora Bung Karno.

foto diambil oleh Dias Arief Prasetyono

Saya bertambah yakin dengan statement yang pernah dua kali saya tulis : “Orang Indonesia belumlah lengkap ke-Indonesiaan-nya bila tidak menyenangi sepakbola”. Atmosfer saat itu benar-benar menggairahkan, baik di luar apalagi di dalam stadion. Suara terompet bersahutan, lautan manusia berkaos merah, semua demi garuda di dada, membuat saya yakin kepergian ke Jakarta pada siang yang panas itu tidak keliru.

Saya berada di dalamnya. Tepuk tangan bahkan saat pemain timnas hanya melakukan pemanasan, suara cemoohan saat pemain Malaysia memegang bola, kebiasaan Tibo memegang jaring gawang saat corner kick, kecepatan lari Okto, umpan jauh terukur Egi, atau antusiasme penonton yang sampai berdiri di kursi meskipun hanya karena ada pemain Indonesia yang masuk kotak penalti lawan. Rasanya baru kali ini menonton langsung laga timnas, dan saya berjanji akan duduk di kursi Stadion GBK lagi lain waktu untuk meneriakkan ‘Indonesia!’.

Sayang sekali laga diakhiri dengan kekalahan melalui adu tendangan penalti. Keesokan paginya saya kembali ke Bandung, di tiga jam perjalanan yang tenang itu saya seperti merasakan lagi kemarahan saat gol Indonesia dibatalkan, melihat lagi tundukan kepala pemain saat gol penalti penentu kemenangan itu, dan mendengar lagi tepuk tangan panjang setelah pertandingan berakhir. Apresiasi tinggi dari saya pada timnas U-23 dan pelatih Rahmad Darmawan untuk permainan memukau selama SEA Games 2011.

##

Selama permainan penuh determinasi itu selalu ditunjukkan, kami tidak akan pernah merasa kalah. Tidak perlu medali emas bukan? Tapi sayang, kadang sepakbola adalah soal hasil.