Final Liga Champions 1998/1999, Manchester United melawan Bayern Munchen, adalah ulasan pertandingan sepakbola pertama yang saya tonton. Salah satu final terbaik sepanjang sejarah Liga Champions itu dimenangkan MU setelah mencetak dua gol kemenangan di menit 90-an. Saya masih ingat gol kemenangan Teddy Sheringham dan Ole Gunner Solksjaer itu. Betapa hebatnya klub yang bisa membalikkan kekalahan hanya dalam waktu tiga menit, betapa pintarnya si pelatih karena dua gol itu dicetak oleh para pemain cadangan, sesederhana itu pikiran saya. Selanjutnya berlangsung sangat cepat, sejak itu saya menetapkan Manchester United sebagai klub idola.

Formasi di Final Liga Champions 1998/1999 gambar : wikipedia.org

Setiap bermain sepakbola dulu, baik itu game Playstation atau sepakbola beneran, saya hampir selalu membawa nama MU. Dulu waktu masih SD, sewaktu bermain bola kami sering menyamakan diri dengan pemain favorit, tergantung posisi yang saat itu kami tempati. Karena tempat saya selalu di tengah, maka pemain beruntung tersebut adalah Ryan Giggs, selain karena pemain MU, nama kami juga agak mirip🙂

Setiap pertandingan MU saya bahas, apalagi setelah di ITB bertemu banyak fans MU lain. Setiap gol indah kami ceritakan berulang-ulang, setiap kemenangan kami banggakan, setiap kekalahan kami ulas kesalahannya, siapa yang seharusnya bermain, kalau kebobolan itu salah siapa, atau siapa yang harus dibeli pada jendela transfer selanjutnya.

Sebegitu cintanya saya terhadap MU. Jadi tidak salah jika saya hampir tidak bisa berkata-kata saat MU dipastikan tidak lolos babak 16 besar Liga Champions musim ini. Kekalahan 1-2 di kandang Basel mengulangi musim 2004/2005 saat MU tidak lolos fase grup, bedanya saat ini masih mendapat tiket Liga Eropa. Ingat benar saat itu banyak koran memasang besar-besar gambar Ferguson dengan judul yang hampir mirip : “Inikah pertandingan terakhir Ferguson?

Apa yang salah dengan MU? Terlalu banyaknya pemain muda. Permainan yang sempat menggebrak di awal musim, namun lambat laun seperti menemui titik jenuh. Ashley Young adalah pemain bagus, tapi tidak berpengaruh signifikan pada permainan, saya tidak tahu apa yang salah dengan Evans, dan Cleverley belum tentu bisa lagi mengembalikan sosok Scholes setelah kembali dari cedera nanti. Harus ada pergerakan di transfer Januari nanti, tidak sembarang membeli pemain bagus, tapi juga harus yang senior dan berkarakter. Jadi tidak ada lagi ‘hanya mencetak satu gol setiap laga di 7 pertandingan terakhir liga’. Tidak ada lagi kekalahan di pertandingan sudden death.

Jadi setelah Piala Carling dan Liga Champions, kekecewaan apalagi yang diberikan?