Dalam novelnya yang berjudul sama, Agustinus Wibowo menceritakan konsep ‘Garis Batas’ dapat berupa real dan imajiner. Penulis sekaligus backpacker ini, dan dari sanalah dia mendapat materi cerita yang begitu kuat, sebenarnya hanya merangkum kisah perjalanannya ke Asia Tengah, namun terasa lebih dari itu semata-mata karena wawasannya yang luas. Garis batas real dapat berupa gunung dan sungai, yang imajiner bisa berupa bahasa. Kalau boleh menganalogikan, garis batas paling tegas dalam hidup saya bernama jarak, garis itu ditulis tiga tahun lalu, saat pergi merantau kuliah di Bandung.

Dan proses penggambaran garis itu tidaklah mudah, apalagi di detik-detik terakhirnya.

##

Hanya ada saya dan ibu malam itu, dalam mobil yang melaju kencang di jalan tol kota. Setengah perjalanan kami lebih banyak diam, mungkin inilah yang dipikirkan perancang kota Semarang, orang yang akan bepergian jauh membutuhkan momen tenang dengan anggota keluarganya, dan jalan tol yang bermuara langsung ke stasiun mengakomodasi ketenangan itu.

“Sebenarnya Ibu ga mau Rean pergi jauh gini”, Ibu memulai dialog, melawan ketenangan yang diberikan, “Ga ada orangtua yang mau anaknya pergi jauh, tapi demi pendidikan apa boleh buat”, intonasi Ibu tampak berbeda dari biasanya, ada yang beliau tahan di dalam dadanya.

Pendidikan, sebuah alasan mengapa saya mau jauh-jauh ke Bandung. Dimana lagi tempat terbaik untuk mengakomodasi minat saya kepada dunia teknik?

“Adikmu itu tadi agak cemburu, soalnya seharian ini kamu lebih banyak main ke temen-temenmu”, Ibu membuka percakapan baru, “Kamu kan mau pergi jauh, harusnya kamu temenin dia seharian ini”.

Radio saya kecilkan. Suasana kembali sunyi. Hanya ada deretan panjang lampu jalan yang berbicara, itu pun dalam bahasa mereka. Pikiran saya terbang ke tiga hari terakhir, ya memang benar waktu banyak saya habiskan bersama teman-teman. Makan bareng, jalan-jalan ke SMA, nonton sampai malam. Kenapa adik malah saya lupakan? Bahkan bisa jadi mereka yang paling kehilangan saat saya pergi.

Mobil sudah keluar dari jalan tol, tarikan rem sering terasa, jalanan kota sedang tidak lancar.

“Jangan lupa sering ngabari kondisi ya, kalo mau pulang ya pulang aja gapapa”, mobil direm mendadak, jalanan di depan kosong, ibu tiba-tiba menangis. Saya tidak berani menatap wajah ibu.

“Jangan nangis dong Bu, aku ga kuat kalo lihat ibu nangis”, bisik saya dalam hati. Pandangan saya alihkan keluar jendela, sambil menahan airmata. Saya reflek mengambil tisu seperti yang ibu lakukan, bersiap jika butirannya tidak kuasa untuk ditahan.

##

Cerita di atas mungkin menjadi momen paling emosional antara saya dan ibu. Dan saya ingat setelah itu hubungan kami lebih erat dari sebelumnya. Ibu lah orang terdepan yang komplain kenapa saya jarang pulang saat liburan. Seandainya saya ITB, mungkin beliau bakal memimpin anak-anaknya yang lain untuk demo seperti siang tadi sebagai wujud kekecewaan besok liburan Januari. Ibu juga sering menjadi tempat curhat saya, kalo ada nilai C saya lapor ke ibu, ibu lah orang pertama yang ingin saya peluk saat kehilangan laptop dulu, kami pernah berbicara berdua berbisik-bisik padahal ruang keluarga saat itu kosong, termasuk curhat soal cewek🙂. Aneh sekali kami malah didekatkan oleh jarak.

Oh iya, selamat ulang tahun ya Bu 13 Desember kemarin. Semoga dilancarkan segala urusannya. Doa Insya Allah selalu mengalir dari anakmu yang paling bandel ini. Maaf juga ya Bu soal besok Januari…😦