Suatu negara tidak akan pernah kekurangan pemimpin bila anak mudanya masih suka mendaki gunung, menyelami lautan, dan menjelajah rimba -Henry Dunant-

Piala AFF 2010. Indonesia digadang-gadang akan menjadi juara melihat permainan impresif sepanjang perjalanan ke final. Tiga pertandingan fase grup disapu bersih. Dua laga semifinal yang dilangsungkan di Jakarta karena stadion Filipina tidak memenuhi syarat juga berhasil dimenangkan. Lima belas gol digelontorkan, animo suporter sangat membanggakan, kesucian Gelora Bung Karno berhasil dijaga. Apalagi yang bisa menghadang timnas yang menantang Malaysia di laga final, lawan yang pernah dibobol lima kali oleh Indonesia di fase grup? Tapi sayang sekali di final dengan format home and away itu, timnas dibantai tiga gol tanpa balas di Stadion Bukit Jalil. Dengan misi yang sedikit mustahil, kita berharap Indonesia dapat membalikkan keadaan di Jakarta. Teriakan semangat, doa, ucapan selamat berjuang mendadak menjadi populer di jejaring sosial, televisi, dan media cetak.

Akhirnya pertandingan itu dimulai. Indonesia bermain dengan semangat tinggi, meskipun setelah kegagalan penalti Firman Utina, meskipun setelah kebobolan lagi di awal babak kedua. Permainan memikat itu kembali terlihat setelah hilang di partai pertama. Indonesia akhirnya menang setelah menceploskan dua gol, tapi itu belum cukup. Garuda kembali tersungkur. Tapi saya yakin, kebanggaan itu pasti masih ada, seperti teriakan Indonesia berulang-ulang oleh seisi stadion GBK setelah kekalahan di final Sea Games 2011 kemarin, yang lagi-lagi oleh Malaysia.

##

Saya pantas bersyukur pernah melihat perjuangan mereka. Bermain dengan sepuluh orang dari awal pertandingan, tidak memiliki perlengkapan lengkap, malah seingat saya sempat meminjam sepatu tim lawan🙂. Walau akhirnya kalah dengan lebih dari setengah lusin gol, itu lebih baik ketimbang kalah WO, opsi yang mereka tolak di awal pertandingan. Saya melihat sendiri mereka berlari keengahan, berusaha mengejar lawan, menendang bola dengan canggung, tapi toh tidak apa-apa, karena tidak seperti di lingkungan saya, olahraga mungkin adalah opsi hiburan kesekian di tempat mereka. Standing applause dari awak pesawat untuk perjuangan mereka.

##

Sepakbola memang tidak pernah terlihat mudah. Tertinggal gol, berusaha menyamakan kedudukan, berjibaku di lapangan, adu lompat saat menyundul bola, duel satu lawan satu, akhirnya mendapat penalti dan berhasil menyamakan kedudukan di penghujung pertandingan. Babak perpanjangan waktu, kembali mengejar bola dengan sisa tenaga, berakhir dengan kekalahan di adu penalti. Seperti itulah perjuangan TFC di pertandingan kemarin. Yang kecewa tentu ada, tapi banyak kebanggaan yang bisa disematkan. Permainan yang baik, emosi yang terjaga hanya di lapangan, suporter yang sudah dewasa, dan tentu saja lapang dada menerima kekalahan. Tepuk tangan dua menit tanpa henti setelah pertandingan mengingatkan saya dengan teriakan Indonesia berulang-ulang di GBK pada penghujung November kemarin. Terimakasih untuk pemain, pelatih, suporter semua, saya bangga pernah menjadi bagian dari TERRA.

Peraih nobel perdamaian pertama, Henry Dunant, tampaknya harus menambahkan sedikit kata untuk syarat pemimpin baginya : bila anak mudanya masih suka bermain bola, dan terus mengejar bola tanpa lelah sepanjang pertandingan.

Rasa-rasanya, TERRA-IMG lah penumpang yang meninggalkan kesan paling mendalam bagi awak pesawat, khususnya bagi pilot. Sekarang pesawat sedang transit, menunggu penumpang besok jam 8 pagi. Masih ada 8 paket penumpang lagi yang akan diterbangkan GFL 2012, semoga fair play tetap terjaga. Jangan seperti penumpang tempo hari yang bikin kegaduhan sampai pesawat sedikit oleng, untung ada tim keamanan yang siaga mengingatkan pilot.