Saya kembali kesana tempo hari. Kembali menyusuri gang sempit itu, kembali melewati barisan anak kecil yang bermain bola plastik, kembali mendengar sayup-sayup suara mengaji dari masjid ujung gang, kembali ke rumah itu, dimana kenangan separuh setahun kemarin saya tinggalkan disana.

“Assalamualaikum..”, dan sapaan saya dibalas dibarengi dengan senyuman oleh si pemilik rumah. Rumah tidak banyak berubah, ketenangannya, sejuknya, keramahan penghuninya, lagipula bukankah itu yang ingin dicari, bukankah hal-hal remeh seperti kenangan lama atas sebuah tempat kadang menjadi tujuan utama kembali kesana?

Tapi bukan itu alasan saya kesana. Saya kesana untuk meminta maaf pada si ibu tidak bisa ikut pemakaman si bapak sebulan kemarin, ibu lalu bercerita tentang kronologis kejadian, reaksi tetangga dan kerabat, sampai pada peristiwa unik sebelum kejadian yang selalu ada dalam percakapan seperti ini. Dan entah kenapa saya malah melakukannya : membuat menangis orang yang sedang akan saya hibur🙂

Kalau meminjam konsep Agustinus Wibowo tentang garis batas, bisa dikatakan inilah garis batas paling tegas dalam hidup manusia, yaitu kematian. Saking tegasnya, dengan doa dan tangisan lah rasa rindu baru dapat disampaikan. Yang terakhir memang tidak dianjurkan oleh Rasulullah, tapi kadang air mata terlalu sulit untuk ditahan.

Lalu pertanyaan yang selalu saya berikan kepada mereka yang telah kehilangan : Bagaimana dengan sekarang? Apakah semua sudah kembali seperti semula?

Sedikit kejam memang, tapi ini bisa menjadi tanda obrolan bisa dilanjutkan atau tidak.

“Ibu mendingan capek ngurusin bapak Yan daripada ditinggal kayak gini..”

Baiklah, usapan tangan untuk menghapus air mata itu, tegukan teh tawar terakhir yang mereka sajikan, suara mengaji semakin keras tanda adzan Jumatan akan dikumandangkan, semua menjadi tanda saya harus menyambung obrolan ini lain waktu saja.

Selamat pagi semuanya, masih adakah tempat kenangan yang belum sempat Anda kunjungi lagi?