Lebaran tahun lalu saya dan keluarga mengambil keputusan yang tidak populer bagi sebagian besar orang, yaitu tidak mudik. Setidaknya dalam tujuh tahun terakhir kami selalu pulang ke Ngawi untuk berlebaran bersama keluarga besar. Banyak yang mendasari keputusan kami, salah satunya adalah karena tidak akan bisa lagi sungkem kepada nenek karena beliau sudah wafat. Ternyata, banyak saudara lain yang berpikiran sama, sehingga lebaran keluarga besar dapat dipastikan tidak akan sebesar dulu lagi. Sehingga semakin yakinlah kami untuk berlebaran saja di rumah, meskipun nuansa lebaran tidak seindah di kampung halaman bersama saudara-saudara yang dari dulu tampak sama saja padahal sudah tumbuh besar.

Bicara soal nuansa, sebenarnya yang paling dapet feeling-nya bagi saya adalah saat lebaran di Jayapura, khususnya 2-3 lebaran pertama disana. Yang saya ingat saat itu, suasana di dapur sibuk tapi menyenangkan karena ibu membuat berbagai kue, TV memutar lagu-lagu islami, kota Jayapura yang berbentuk tanjung sehingga saya bisa melihat masjid di seberang laut sana lengkap dengan suara takbirnya, ditambah lagi dengan kesibukan sama yang dilakukan tetangga-tetangga karena hampir pasti tidak ada yang pulang kampung, semua melakukan, merasakan, dan memberikan hal yang sama. That’s how you finish a big thing.

Pada tulisan pertama di tahun ini, saya pernah berujar kalau memulai sama sulitnya dengan mengakhiri, bisa dianalogikan seperti perasaan pilot pesawat terbang. Sama halnya dengan lebaran, semua orang ingin merasakan kepuasan berhasil ‘menaklukkan’ bulan Ramadhan, maka dari itu dipilihlah pergi jauh bersama keluarga. Masalahnya cara mana yang paling memuaskan. Mungkin beberapa dari Anda berkilah kalau saya mendapat feeling karena itulah lebaran pertama saya, sehingga yang berikutnya terasa biasa, tidak salah juga sebenarnya.

##

Dan sekarang keadaannya adalah tim akan mendaratkan pesawat GFL 2012. Tiga hari lagi, dua paket penumpang lagi, dan setelah itu diharapkan pesawat landing dengan sempurna, kalo bisa malah disambut meriah oleh massa kampus. Buat yang pernah merasakan sebelumnya, tolong jangan kecewa karena inilah pendaratan paling mulus yang sudah direncanakan semampu kami. Tolong sediakan tenaga dan waktu bagi siapa saja yang dibutuhkan untuk menjadi awak dadakan setelah ini, ya karena itu tadi, sedikit menegangkan mendaratkan pesawat.

Ditulis saat tim merasa lega sudah tahu bagaimana gambaran saat pesawat besar ini landing nanti