Bagi Anda yang pernah melihat film The Terminal, mungkin akan merasakan juga suasana sepi seperti yang dialami si pemain yang diperankan oleh Tom Hanks. Si tokoh utama yang terjebak -tidak bisa masuk ke Amerika dan tidak bisa kembali ke negara asalnya karena sedang terjadi konflik- di bandara JFK, yang menunggu kapan pesawat yang akan membawanya berangkat. Meskipun hari-harinya diisi dengan bertemu banyak orang asing yang malah membawanya mengenal Amerika, tapi tetap saja tidur sendirian di kursi gate yang sudah tutup, mengantar troli barang kosong agar mendapat upah 25 sen setiap troli untuk bertahan hidup, tidak lancar berbahasa Inggris sehingga tidak banyak yang bisa diajak mengobrol, dan yang terakhir, melihat pesawat datang dan pergi namun bukan untuknya. Apa mau dikata, dirinya hanyalah satu dari sekian ribu orang yang setiap harinya lalu lalang masuk keluar bandara.

Soal rasa sepi, mungkin sekarang itu yang dialami oleh Fabio Capello. Kesehariannya yang diisi dengan timnas Inggris, selain juga menghadapi awak media Inggris yang sudah dicap sebagai media yang paling kejam bagi pelatih sepakbola, mendadak menjadi kosong setelah keputusannya untuk mundur dari kursi pelatih tempo hari. Hanya 4 bulan sebelum Piala Eropa 2012. Alasannya diperkirakan sederhana, FA telah meng-overlap kuasanya sebagai pelatih dengan mencopot ban kapten dari John Terry. Hal ini memperpanjang track record Fabio Capello sebagai pelatih yang tidak pernah dipecat.

Bicara soal pelatih yang mengundurkan diri, saya tertarik untuk membicarakan Rahmat Darmawan. Tidak seperti tren pelatih dunia yang mundur setelah timnya juara, pelatih Indonesia U-23 ini mundur pada saat timnas meraih medali perak SEA Games lalu. Alasannya hampir sama, dia merasa tidak leluasa bergerak karena PSSI membatasi pemain Indonesia yang boleh main untuk timnas. Meskipun terdengar klise karena bukankah sudah sejak lama timnas ‘dijual’ seperti itu, seperti kisah di luar lapangan saat final Piala AFF 2010, harus dimaklumi kalau coach RD butuh ‘keluar’ dari kebisingan. Tekanan selama sebulan lebih dari rakyat Indonesia untuk menjadi juara sepakbola SEA Games, bahkan terlihat mereka lebih peduli pada satu keping medali emas sepakbola ketimbang cabang atletik yang lebih melimpah ruah, tidak salah jika disikapi dengan mengundurkan diri.

##

Saya masih ingat bagaimana pasca acara penutupan kemarin. Orang-orang berdatangan untuk berjabatan tangan, menepuk pundak, memeluk, mengucapkan selamat dan berterimakasih. Tidak banyak yang saya katakan saat itu. Yang saya pikirkan hanyalah, waktunya untuk pergi, atau pulang lebih tepatnya. Terimakasih sebesar-besarnya untuk tim pendaratan, divisi ACT TERRA🙂

Dan sekarang saya disini, duduk di depan laptop, di keheningan. Mungkin suatu saat nanti saya akan merasakan apa yang dirasakan tokoh Tom Hanks di atas, melihat landasan kosong, menunggu pesawat saya terbang. Mengingat baru 3 hari lalu pesawat mendarat, mungkin butuh waktu lama untuk lepas landas lagi. Entah dengan awak baru atau tidak…