Surono atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Rono adalah kepala PVMBG-RI (Pusat Volkanologi & Mitigasi Bencana Geologi – Republik Indonesia), kalimat-kalimat berikut ini keluar saat wawancara ‘La Terre Magz’ dengan beliau (14/02/2012) di kantor PVMBG Bandung.

Hati sama otak itu harus disinkronkan, hati tanpa otak itu gelap, sedang otak tanpa hati cuman bikin manusia sombong

PVMBG ini mulai berdiri tahun 1920 sama persis dengan lahirnya ITB, persis 1 tahun setelah meletusnya G. Kelud (1919)

Kalo geologi bilang ‘The present is the key to the past’ maka geophysics itu ‘The present is the key of the future’

ITB itu bau ‘minyak’ kalo UGM itu bau ‘belerang’

Saya pernah bilang ke wartawan, ‘Mas, mbok ya sebelum nge-wawancara itu belajar dulu’ masak bilangnya gunung meledak??

Jaman Pak Harto orang mau simulasi mitigasi berbondong-bondong ramai-ramai, bahkan ada yang beradegan digigit ular segala, tapi mereka ga minta tuh yang namanya bayaran. Zaman sekarang semua minta duit

Kalo anak SMK sudah bisa bikin mobil, ITB bikin paper ‘cara membuat mobil’

Yang membunuh Mbah Marijan itu ya wartawan!!

Saya pernah diminta buat jadi juru kunci Merapi pengganti Mbah Marijan sama masyarakat setempat, tapi saya menolak, saya pengennya seluruh masyarakat setempat itu jadi juru kunci Merapi. Kenapa? Soalnya kalo cuman 1 dan suatu saat saya ga ada, siap coba yang mau bukain dan tahu kuncinya??

Berbahaya itu kalo anak ITB dikasih kerjaan yang sama terus (rutinitas) dalam waktu yang lama, bisa-bisa ditinggal kabur entah kemana. Yang kerja gituan mah kasih ke anak UPN, UGM..

Scientist itu boleh salah tapi ga boleh bohong!

Zaman Pak Harto kalo ada berita korban bencana ga bisa seleluasa sekarang, jumlah korban yang boleh disampaikan media massa harus sesuai aturan dan alasan yg disampaikan juga harus menuruti aturan

Saya bukannya memihak Soeharto, tapi jaman Pak Harto dibikin itu yang namanya bendungan di G. Ijen buat mitigasi, tapi sekarang ga ada lagi yang kayak gitu

Zangan kayak anak-anak dong, masak setiap kali ada kesalahan yang disalahin pemimpin/presidennya, salahin menterinya dong, menterinya itu gak becus

Jaman Pak Harto itu setiap departemen itu sudah digariskan fungsional dan arahannya secara jelas & departemen itu selalu diisi oleh orang-orang yang brilian

Pak Harto bisa tuh tunjuk orang atas dasar suka kemudian dijadiin menteri, dan jalan kok kementeriannya

Se-brilian apapun orang kalo dia gak dipimpin oleh pemimpin yang baik tidak akan tampak kebaikannya

Jadi pemimpin itu harus siap dan berani ambil keputusan, berani salah tapi ga boleh bohong, dan berani mengubah kebiasaan/kondisi

Indonesia ini butuh pemimpin yang ‘langsung ketok palu’ saat ditanya soal urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak

Politik itu bukan soal benar-salah tapi soal koalisi/kesepakatan. Kalo partai-partai sudah sepakat orang sebener apapun bisa dianggap salah & orang sesalah apapun bisa jadi benar

Saya gak heran pak Djoko Santoso bikin aturan wajib publikasi jurnal untuk mahasiswa, lha wong pas zaman saya udah ada yang kayak gitu kok

ITB bukan STM/SMK, ga mendidik orang untuk jadi pisau tapi mendidik orang untuk jadi baja. Maka tempalah diri kalian untuk jadi baja yang baik, sehingga siap dipakai dan bermanfaat dimanapun. Wajar anak SMK bisa bikin mobil soalnya mereka emang dilatih untuk siap jadi itu, anak ITB bukan seperti itu, anak ITB dilatih untuk pandai menempatkan dirinya dimana dia bisa memberi manfaat untuk orang lain.

Beda osjur di ITB dan osjur di kampus lain, kalo di ITB selalu membawa tema terkait dengan kebangsaan sedang kampus lain cenderung membawa orientasi pada kecintaan terhadap almamater masing-masing

Kalo buat anak ITB itu kasih kerja yang dikerjakan dalam waktu singkat dan butuh inovasi, UGM-UI bolehlah, kalo Unpad ya mirip-mirip anak SMA

Jangan mau jadi orang yang biasa-biasa aja, harus jadi orang yang berbeda dan ‘the best’

Kalo S1 nya ITB, S2 jangan langsung ke luar negeri, pasti hancur. Mending S2 di ITB baru S3 di luar negeri

Ga usah ke luar negeri kalo ujung-ujungnya gagal

Saya bangga jadi mahasiswa S1 ITB, tapi tidak untuk S2 & S3

Kalo Anda bekerja nanti jangan mengejar kesuksesan, bakal sakit hati nanti Anda, yang penting ‘do the best’ aja

ITB itu lingkungannya unik, kampusnya itu kecil & jalan-jalannya sempit sehingga memungkinkan buat kontak dengan orang lain dan menjadi semakin mudah bagi 1 orang untuk dikerubungi yang lain

Kenapa di pewayangan, baik wayang Sunda atau Jawa selalu dibuka dengan ‘gunungan’? Ya itu karena gunung melambangkan kehidupan itu sendiri. Gunung seperti 2 sisi uang logam, yang satu membawa bencana satu lagi membawa berkah

Saya punya banyak data kegunungapian yang bagus untuk diolah, dijadikan tugas akhir (TA) dan semacamnya. Sayangnya kebanyakan mahasiswa geofisika lebih tertarik dengan minyak daripada yang beginian. Yang begini-begini ini malah dipakai datanya sama bule/orang asing

Mungkin saja perkataan beliau di sini mengalami perubahan redaksi karena penulis hanya mengandalkan ingatan belaka. Akan tetapi inti/maksud perkataan beliau kurang lebih seperti kutipan-kutipan di atas, selamat menyimak dan mengambil pelajaran kawan”

##

Wawancara dilakukan oleh tiga orang teman saya, Andri Leits, Setya Drana, dan Sapto Andika. ‘La Terre Magz’ adalah majalah keprofesian yang Insya Allah akan dikeluarkan divisi keprofesian-kominfo TERRA ITB di kuartal pertama tahun ini. Tulisan di atas didapat dari tumblr Dimmas Ramadhan, linknya disini. Terimakasih semuanya, semoga bermanfaat🙂