“Jadi gimana?”, saya bertanya sambil memainkan pulpen.

“Masalahnya gini Re, aku udah pernah kerja buat TERRA, dan waktu itu aku kerja sendirian, ga ada yang bantuin”

Saya mengingat-ngingat apa saja amanah TERRA yang pernah dia emban. Saya menyebutkan dua macam, dia mengangguk.

“Kamu ga bakal kerja sendiri, di bawahmu ada empat kadiv, kadivmu punya tim, mereka pasti turun langsung ke lapangan. Aku pasti juga bantu. BPH juga bantu, ketua angkatan, pasti banyak boy. Dan satu lagi, kamu ga punya proker, kamu tinggal ngawasin proker kadivmu”.

Saya tidak menyangka menjanjikan begitu banyak bantuan, mau gimana lagi, sedikit sulit menemukan orang di posisi ini, harus cowok, suka serta tahu bola, dan bisa dipercaya. Soal chemistry bisa lah dibangun di tengah jalan.

“Oh jadi aku ga punya proker ya?”, saya mengangguk.

“Gimana? Kalau deal kita tos boy”

“Eh, ntar deh aku mikir dulu ya..”

Dan kami masuk ke musholla untuk shalat dzuhur.

….

Sore harinya, masuk sebuah pesan, dan saya tersenyum,

“Eh Re, aku tos deh”

###

“Ada apa Re? Tumben main kesini”

“Jadi gini”, saya berkata sambil mengeluarkan notes dan pulpen, mulai menggambar bagan kepanitiaan, sama seperti yang saya lakukan pada orang pertama, “Disini ada tiga sekjen, di bawah tiap sekjen ada divisi ini, ini, ini..”, saya berkata sambil menyebutkan nama divisi diikuti jawaban ‘OK’ dari dia.

Sebelas nama divisi saya sebutkan, sebelas kali pula kata ‘OK’ keluar dari mulutnya.

“Nah ngelihat potensimu, kamu pas di posisi ini, di bawahmu ada tiga divisi”, sambil tangan saya melingkari tiga divisi itu.

Saya tidak terlalu mengenal dia, kelas, teman main, hampir tidak ada yang sama, kalaupun ada yang berpotongan dari kami, salah satunya pastilah hobi menulis yang sama-sama disalurkan dalam blog pribadi. Yang saya tahu, he’s a man of his word. Dia termasuk satu dari sedikit penulis majalah yang mengirim artikel seperti waktu yang dijanjikan. Kalau bilang ntar malam, ya malam ini pasti di-email. Ditambah lagi dengan prestasi di luar kampus, Insya Allah tepatlah posisi ini baginya.

“Pertanyaannya bang, mau ga bantuin?”, lalu saya meneguk frestea lemon dingin yang masih penuh, tegang menunggu jawaban.

“OK”, jawab dia singkat, hampir tanpa berpikir.

“Hah, OK gitu aja, ga ada debat-debat gitu?”

“Ya seneng dong mau dibantu, kok malah minta didebat”

Saya tertawa, kami tertawa.

“Ngerasa tertantang ga sih, ikut ginian. Apalagi kamu Re, jadi ketua, hehe”, dia tersenyum.

Ada yang berbeda di kalimat itu. Saya menggali, dia membeberkan beberapa. Obrolan 15 menit itu membuka mata saya tentang potensi yang lebih besar pada dirinya. Semakin yakinlah saya telah memilih orang yang tepat.

Kami berjabatan tangan. Saya pamit pulang.

(Setelah itu, kami sering berdikusi. Dan benar memang, ada potensi disana yang begitu besar. Sayang, hanya 30% potensi yang dia berikan untuk TERRA🙂, dan di kepanitiaan ini salah satunya)

###

“Aku udah minta pertimbangan ke beberapa orang, Insya Allah gapapa kok kalo kamu jadi ngambil ini”, saya membuka percakapan yang sudah kesekian kali itu.

Saya ingat benar jawaban dia tempo hari : “Aku mau aja Re, tapi aku takut ada masalah, kamu tahu kan apa masalahnya, kalo ga ada lagi yang mau, aku masuk deh”.

Kalo ga ada lagi yang mau, entah sudah rentetan kata keberapa yang saya dengar seminggu terakhir itu. Saya merasa masih perlu belajar dalam kepanitiaan besar, solusinya harus ada orang ‘senior’ yang masuk dalam tim, dan saya rasa dialah orangnya.

“Jadi gimana? Mau ya bantuin?”

“Kamu minta pertimbangan ke siapa aja?”, saya menyebutkan tiga nama.

Dia terdiam sebentar.

“Siapa aja kira-kira panitianya Re?”

Saya menyebutkan beberapa nama di rancangan bagan, kali ini tanpa menulis.

“Oh jadi kadiv di bawahku masih belum lengkap ya? Mau aku bantu cariin? Aku udah ada gambaran kok kira-kira siapa aja yang mau”.

Dan kami pun mengobrol panjang lebar. Sambil sesekali menjawab sapaan orang yang lewat, eh bukan sesekali, banyak yang menyapa, kami duduk di tangga utama soalnya.

###

Dan saya masih ingat masa-masa itu, sulit sekali menentukan sampai akhirnya mendapatkan tiga nama orang di atas. Sekretaris jenderal, kaki tangan, ‘mata-mata kadiv’ jika meminjam istilah seorang senior, apapun sebutannya, saya bersyukur pernah bekerja sama bersama mereka. Terimakasih Akbar, Hada, Ellena.