Saya berjalan cepat menuju lapangan. Setelah sejam menunggu, dosen ternyata tidak datang, kuliah kosong. Sebuah pesan masuk, dan untuk yang kesekian kali, membuat saya semakin mempercepat langkah,

“Re, kesini dong, kacau disini, pada bingung semua”

Berlebihan memang, sesampai saya di lapangan, pertandingan tetap berjalan. Suporter kedua tim juga ada di area suporter, dokumentasi, medik, juga cukup orang. Kacau disini ternyata tidak ada orang yang bisa dijadikan pegangan, orang-orang tersebut biasanya duduk di kursi panitia di antara dua bench pemain, dan biasanya anak 2008. Kursi panitia berarti harus siap ditanya segala macam, dari soal minum wasit sampai teknis pertandingan. Saat ini hanya saya anak 2008 yang di lapangan, kami semestinya sedang kuliah.

Penasaran, saya lihat siapa anak 2009 yang ‘berani’ duduk di kursi panitia. Ada dua orang duduk bersebelahan, yang satu memegang papan pergantian pemain, yang satu memegang map berisikan DSP (Daftar Susunan Pemain). Keduanya tersenyum lega saat melihat saya, sama seperti ekspresi anak-anak 2009-2010 yang saya sapa sepanjang pinggir lapangan tadi. Saya juga tersenyum karena telah bertemu orang yang berani duduk disana, yang sebenarnya memiliki tanggung jawab lain sebagai kadiv logistik dan keamanan. Kelak, merekalah yang akan mengajukan diri sebagai pemegang amanah terbesar TERRA. Dengan bangga saya menyebutkan, mereka adalah Rafi dan Addian.

##

Rafi adalah sosok yang vokal, baik di angkatan (sejauh yang saya dengar) dan TERRA. Saya pribadi merasa banyak terbantu olehnya, seperti mencarikan kadiv danus yang sangat sulit itu, atau menitipkan pesan ke angkatan 2009.

Addian adalah sosok tidak banyak bicara yang selalu siap membantu. Dia lah satu dari 10-an orang yang pasti ada di mektan saat membuat maskot GFL, atau mencarikan mobil pick-up untuk keperluan stand di ITB Fair.

Keduanya sama-sama kadiv yang saya closrec pada divisi yang sebenarnya di-oprec. Alasan keduanya sama, berminat namun mengalah kalau ada orang lain. Mereka juga merupakan salah dua dari tiga kadiv yang jam 6 pagi sudah ada di lapangan saat upacara opening. Dua orang yang hampir 180 derajat berbeda ini, telah banyak memberikan kontribusi untuk TERRA dengan caranya masing-masing. Dan ini yang saya suka, mereka tetap menjadi diri mereka sendiri selama masa pencalonan.

##

Dan saya membayangkan mereka sedang terkantuk-kantuk pagi ini. Kurang tidur seminggu terakhir, merumuskan hal-hal baik untuk himpunan di sela kesibukan kuliah, terlebih lagi semalam. Malam ini saat hearing, saya akan melihat lagi mereka berdua duduk bersebelahan, melantangkan ide-ide, meniupkan mimpi-mimpi mereka untuk TERRA.

Sukses untuk hearingnya cakahim #1 dan #2!