Diam adalah sebuah sikap, dan mungkin saat ini diam adalah pilihan paling tepat.

Saya sedikit tahu banyak soal energi. Tentang anggapan Indonesia sebagai negeri yang kaya padahal kondisi prospek migasnya sebenarnya sudah mengkhawatirkan, tentang potensi geotermal kita yang sebesar 40% cadangan energi geotermal dunia tapi belum banyak dieksplorasi, tentang Brazil dan Norwegia yang berhasil mengembangkan teknologi laut dalam, sehingga bisa mengekplorasi minyak di mancanegara. Latar belakang saya sebagai teknik geofisika secara tidak langsung membebaskan saya untuk berkomentar soal kenaikan BBM.

Ya saya tahu itu semua, tapi saya memilih diam. Akademisi dan pemerintah sedikit sulit bersatu soal keputusan. Karena kami membicarakan apa yang bisa dilakukan, mereka menganut apa yang harus dilakukan sekarang.

Saya juga sedikit banyak tahu tentang keadaan tahun 2005 lalu. Saat itu harga premium 6 ribu rupiah per liter. Dan akan saya tuliskan sedikit fakta menarik menurut yang pernah saya baca di majalah Tempo edisi 20-26 Februari 2012 : Bank Dunia mencatat kelompok kelas menengah Indonesia saat ini berjumlah 130 juta orang atau sekitar 56,5 persen penduduk Indonesia. Bahasa gampangnya : banyak orang kaya baru di negara ini. Izinkan saya menggabungkan dua statement di atas, rakyat Indonesia pernah mengalami harga premium 6 ribu rupiah per liter, namun sekarang dengan kondisi ekonomi yang lebih baik.

Anda membantah dengan : Bagaimana dengan rakyat kecil di pelosok?

Saya menjawab dengan mengutip perkataan teman saya dari Kalimantan yang dituliskannya di sebuah jejaring sosial : “Di kampung saya, beli bensin yang langka 11 ribuan ga teriak kok masyarakatnya”

Jadi orang-orang yang kena dampak paling besar ya masyarakat pulau Jawa, yang hidupnya paling dinamis se-Indonesia. Dan orang yang paling banyak menggunakan bahan bakar premium ya pasti yang punya kendaraan pribadi, alias termasuk ‘kelas menengah’ itu. Jika premium tidak disubsidi sehingga harganya mencapai 8600 rupiah per liter pun saya yakin mereka mampu menebusnya. Saya tahu semua itu, tapi tetap saya memilih untuk diam.

Lalu saya membaca tentang mahasiswa yang berdemo, membakar ban, menyandera truk Pertamina, bentrok dengan polisi, saya tidak bisa untuk diam. Kenapa Anda melakukan itu kawan? Memang menjadi aktivis adalah sebuah pilihan, tapi bukan yang seperti ini. Demo memang memberi sensasi, tapi bukan solusi. Jika ingin didengar, buat saja terobosan. Buat saja sehari tanpa kendaraan bermotor pribadi misalnya. Apa yang dipermasalahkan? Subsidi?

Dosen saya pernah mengatakan, cara untuk mengurangi subsidi BBM ya dengan mengurangi penggunaan BBM. Anda seharusnya pernah mendengar juga karena setelah menjadi wakil menteri ESDM pun beliau masih mengatakannya. Bagaimana cara mengurangi BBM? Cari sumber energi lain. Bagaimana caranya? Tenaga dan pikiran semestinya dipusatkan kesana, bukan dihabiskan di depan Istana Negara.

Karena saya percaya rakyat Indonesia masih akan baik-baik saja meskipun harga premium menjadi 6 ribu rupiah per liter, karena saya berharap dengan kondisi ini akan timbul ide-ide untuk mencari energi lain, maka saya tidak menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM.