Nampaknya semua akan setuju dengan kalimat ini : kematian adalah soal kesendirian. Hal itu juga lah yang tergambar pada film Man on a Ledge. Kisah unik ini bercerita tentang seorang polisi yang dituduh merampok berlian, dan mengancam akan bunuh diri agar kasusnya diselidiki ulang. Tidak main-main, dia akan melompat dari lantai 21 dan berjam-jam berdiri di bibir jendela sebuah hotel di Manhattan. Teriakan dari kerumunan orang yang menonton itu, si polisi dengan rambut acak-acakan yang berdiri di batas kematian itu, adegan itu, bagi saya, menunjukkan kekontrasan yang memang terjadi di ambang maut. Terlihat ramai, milik bersama, namun sebenarnya adalah pertarungan diri sendiri.

Nuansa yang sama saya rasakan saat membaca novel Selimut Debu karya Agustinus Wibowo. Penulis yang mengambil bahan dari kisah backpacker-nya sendiri ini, terasa bertarung sendiri hampir di sepanjang ceritanya. Memang si lakon utama, yaitu penulis sendiri, bertemu berbagai macam orang yang pada akhirnya membawanya mengenal Afghanistan, tapi mereka hanya sebagai pelengkap cerita. Inti kisah mutlak ada pada penulis, yaitu konflik yang terjadi di dalam dirinya, tentang bagaimana menghadapi kematian. Kematian bukan hanya jasmani, ya benar si penulis memang mengalami kelelahan dan kelaparan yang sangat di perjalanannya, tapi juga rohani. Nuraninya sekarat ketika merasa dibohongi penduduk saat diberi harga mahal untuk menumpang mobil, atau merasa ada yang salah saat seorang anak menjawab sopir mobil saat ditanya apa cita-citanya, atau merasa nyawa manusia hanya hal sederhana karena ‘kehidupan-kembali-normal-tiga-jam-setelah-sebuah-bom-meledak-di-Kabul’. Novel ini adalah soal kematian, dan lagi-lagi itu adalah soal kesendirian.

##

Saya memiliki seorang kawan yang rasanya sedang berdiri di ambang kematian, kali ini bukan jasmani, melainkan semangat. Semangatnya untuk ‘merangkul’ hampir tamat karena tidak ada yang merasa mau ‘dirangkul’. Kami yang berada di batas kematian kebersamaan, memang butuh untuk kembali disatukan. Saya membayangkan orang ini, yang namanya tidak perlu disebutkan karena toh mudah ditebak, sedang merokok di pinggir jendela sambil menerawang kejauhan, merasa sendirian di batasnya. Saatnya untuk menepuk pundaknya, mengingatkan kalau kita semua berdiri di belakangnya, siap untuk melangkah, berlari melompati batas kematian bersama.

Saya sudah pernah menulis sebelumnya, dalam menghadapi sesuatu, bukan apa yang dikatakan di ujung telepon, namun kehadiran fisik kita disini lah yang penting. Tidak masalah kalau ternyata kita tidak banyak bicara, namun teh akan terasa lebih nikmat kalau diseruput bersama 70 orang.

Ya, jangan biarkan dia sendirian.