Sudah kali ketiga dalam seminggu terakhir saya kembali kesini. Kemarin Minggu, Selasa, dan hari ini. Padahal ‘kemarin’ hampir setiap hari, seringkali tanpa sarapan bahkan.

Putaran pertama saya sengaja hanya berjalan. Mulai membiasakan diri sambil pemanasan. Saya masih ingat hari minggu kemarin banyak yang bermain bola, namun kali ini anak-anak SSB, bukan mahasiswa ITB. Tapi tetap saja ada teriakan-teriakan itu, baik meminta bola atau saat mencetak gol. Tiupan peluit juga ada, tapi untuk aba-aba, bukan saat pelanggaran. Tinggal yel-yel suporter berjaket himpunan, lengkaplah sudah.

Putaran kedua saya mulai berlari. Seperti biasa, memulai selalu terasa berat. Saya paksakan saja meskipun kaki serasa masih ingin berjalan, toh masih bisa menikmati sekitar. Saya melewati pos satpam, memasuki trek melengkung, dan kembali lurus. Kali ini pandangan saya lempar ke arah kanan, yaitu bench pemain. Saya melihat kumpulan lelaki dengan seragam, seorang manager tim, dan pelatih yang tidak pernah duduk. Raut wajah mereka tegang, pandangan tidak pernah lepas dari lapangan. Botol minum, sepatu, rompi pemain, semua berserakan. Saya mengucek mata, kembali fokus ke depan.

Putaran keempat lari masih saya jaga konstan. Dibandingkan kencang tapi lekas lelah, saya lebih memilih untuk berlari konstan, selambat apapun itu. Saya sampai di trek lurus lapangan pasir. Saya mengambil trek terdalam, sedikit melambat, saya mendengar sayup-sayup percakapan dari arah lapangan rumput.

Angkatan 2009 ya mas? Ketuanya dari 2008 ya?

Saya mempercepat langkah, sepuluh meter kemudian saya melihat dua orang berjaket oranye duduk di sebuah bangku di pinggir lapangan. Tampaknya obrolan keduanya serius, meskipun pandangan mereka lurus ke lapangan. Seorang dari mereka, berkacamata, sedang berbicara sambil merokok, seorang lain mendengarkan dengan seksama. Kadang mereka tertawa lepas, lalu kembali serius. Aneh, bukankah di sini dilarang merokok, lalu kenapa dia tidak mengingatkan si kacamata. Mungkin obrolan mereka jauh lebih penting daripada itu, atau mungkin si pendengar terlanjur maklum dengan ketergantungan kawannya terhadap nikotin. Pandangan saya lempar ke depan, ke arah pos satpam untuk melihat jam.

Putaran ketujuh, napas saya mulai tersengal. Semakin besar keinginan kaki untuk berjalan. Satu putaran lagi lah. Saya kembali melewati bench, kali ini pandangan saya ke arah pintu di antara dua bench pemain. Saya melihat sekelompok orang, beberapa memakai jaket oranye, mengelilingi meja, ada yang menulis, ada yang memegang tumpukan kartu, ada yang sedang mengecek bola, semua tampak sibuk. Tidak semua ada di meja, beberapa duduk di tangga biru, ada kamera di tangan mereka, siap mengabadikan gambar. Beberapa juga ada di pinggir lapangan, memasukkan es ke cool box atau sekedar mengecek tandu. Lamunan saya buyar saat seorang kawan memanggil, saya mengacungkan jari telunjuk, minta waktu untuk satu putaran lagi.

Putaran kedelapan, saya memilih berjalan, sekalian untuk pendinginan. Matahari sudah agak tinggi, namun trek lari masih ramai. Benar memang, pertandingan pagi sebenarnya tidak perlu ball boy. Saya kembali melewati trek lurus lapangan pasir, pos satpam, trek berbelok, bench pemain. Dua orang yang tadi mengobrol di bangku sudah pergi, begitu juga orang-orang berjaket oranye yang tadi tampak sibuk. Bench pemain juga kosong. Mungkin itu hanya bayangan, ‘kemarin’ keseringan kesini soalnya.

Lalu saya masuk ke pintu tunnel, naik ke kantin untuk membeli minum. Saya duduk di kursi kantin, menenggak air sambil mengatur napas, kelelahan. Lapangan bola memang enak kalau dilihat dari atas sini. ‘Kemarin’ rasanya saya sering duduk di sini, sarapan kalau orang di lapangan sudah cukup, atau makan siang dengan menu terbatas.

Iya ‘kemarin’, tiga bulan yang lalu.