gambar : pertamina.com

Tepat sekali, cukup foto seorang Dahlan Iskan di cover, bagi saya, sebagai alasan membeli buku ini. Saya termasuk orang yang terlambat mengenal Pak Dahlan. Saat orang lain sudah terpukau saat Pak Dahlan masih menjadi wartawan Jawa Pos, saya baru mengenalnya tepat saat beliau diangkat menjadi menteri BUMN. Itupun hanya melalui tulisan beliau, yang berjudul ‘Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?’. Tulisan itu mengisahkan kegamangan hati Pak Dahlan karena harus berpisah dengan PLN, sebuah perusahaan yang pernah dibencinya mati-matian itu.

Berangkat dari sana, saya merasa ‘berhutang’ informasi soal beliau, dan cara membayarnya adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya tulisan seputar Pak Dahlan. Saya membuka blog Pak Dahlan dan membaca puluhan tulisannya, khususnya saat menjadi dirut PLN, saya ingin mengetahui jalan pemikiran beliau. Setiap berita soal Pak Dahlan saya cermati, apalagi seiring jalannya waktu beliau banyak melakukan terobosan sensasional. Saya masih merasa kurang, media apa yang merekam Pak Dahlan saat masih menjadi wartawan?

Dan saya menemukan buku ini.

Dengan judul Ganti Hati : Tantangan Menjadi Menteri, buku ini mengulas tentang perjalanan operasi Pak Dahlan. Seperti yang diketahui, Pak Dahlan pernah menjalani operasi transplantasi liver karena penyakit hepatitis B, dan itu telah menjadi sebuah episode tersendiri dalam hidup beliau. Beberapa bab diambil dari tulisan beliau di Jawa Pos, namun ada juga yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.

Buku ini menceritakan kisah Pak Dahlan mulai dari tanda awal beliau menderita sirosis, seperti muntah darah, lalu tentang perjalanan ke Singapura dan Tiongkok untuk menentukan pilihan yang harus diputuskan, sampai kepada detik-detik pra dan pasca operasi yang beliau tuliskan dengan begitu ringan. Bukan hanya ringan dimengerti, namun juga seperti ringan saja ditulis, seperti tidak sedang menghadapi risiko kematian. Padahal beliau sendiri tahu kalau banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi, khususnya saat minggu pertama pasca operasi akibat infeksi.

Sama ringannya saat Pak Dahlan menceritakan kemiskinan yang menjerat beliau sejak kecil, lalu tidak memiliki biaya untuk imunisasi hepatitis B. Seperti tidak diperbolehkan latihan naik sepeda oleh ayahnya karena mereka tidak punya uang kalau Dahlan kecil merusakkan sepeda orang, atau tidak sengaja menemukan uang tabungan ayahnya lalu menggunakannya untuk membeli es dawet yang begitu ingin dia cicipi itu, atau hanya memiliki sebuah sepatu yang hanya dipakai tiap Senin dan sebuah baju (kalo bajunya dicuci? Dahlan kecil memakai sarungnya, yang juga hanya satu).

Bagi yang ingin melihat review-nya di Goodreads silakan klik disini. Jangan berharap mendapatkan sastra rumit namun kaya ala Goenawan Mohamad, atau bahasa indah berpantun ala novel Melayu. Kalimat buku ini begitu akrab, begitu polos, sama polosnya dengan wujud syukur Pak Dahlan terhadap kesehatan, yang dituliskannya di akhir cerita, yaitu bekerja keras. Tidak ada umbaran janji, tidak ada ucapan muluk.

Tulisan ini juga menjadi resensi di situs Yes24 Indonesia. Silakan klik disini untuk melihat.